Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2020

Fungsi Adik untuk Kakak


(Detik) 

"Aku melahirkanmu agar kau merawat dan melindungi kakakmu" katanya sambil memeluk lelaki kecil itu. 

Cuplikan dialog drama korea terbaru ini cukup mengganggu pikiran saya. It's okay to not be okay sukses mencuri perhatian drakorian. Setelah kemarin-kemarin per drakoran banyak dengan tema serong alias selingkuh, kini ramai tema tentang mental illness, beraroma psikologi, salah satunya drama It's okay to not be okay atau psycho but it's okay. 

Male lead drama ini diperankan oleh Kim Soo Hyun, menjadi Gang Tae, yang GanTeng  😅. Dari kecil ia harus merawat kakaknya yang keterbelakangan mental karena ibunya meninggal. 

Sang ibu pun saat mabuk menyatakan pada Gang Tae kalau ia melahirkannya untuk merawat dan melindungi kakaknya, Sang Tae yang keterbelakangan mental. Sebelumnya pun, sang ibu memukul Gang Tae karena kakaknya dipukuli oleh orang, padahal ibunya memasukkan Gang Tae ke tempat les bela diri agar bisa melindungi Sang Tae. Belum lagi scene saat hujan turun juga saat tidur, fokus ibunya hanya untuk Sang Tae. Sehingga Gang Tae pun memancarkan aura sedih pada wajahnya. 

Kenapa episode 4 ini sangat mengganggu pikiran saya? Saya ingat film Barat yang bercerita tentang kakak yang terkena leukimia akut, dan oleh dokter, sang adik disarankan menjadi penyelamat kakaknya. Dengan mendonorkan darah, organ, juga jaringan tubuhnya agar kakaknya tetap hidup. My sister keeper, judulnya. 

(Pinterest) 


Saat sang kakak mengalami gagal ginjal, Anna, sang adik yang baru berusia 11 tahun dipaksa orangtuanya untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk sang kakak. Anna yang bercita-cita sebagai cheerleader diperlihatkan tak ingin mendonorkan ginjalnya. Karena dengan mendonorkan ginjalnya, kemungkinan besar ia akan menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Bermain bola, menjadi anggota cheerleader, bahkan menjadi seorang ibu. 

Gang Tae dan Anna sama-sama dilahirkan untuk menjaga keberlangsungan hidup sang kakak yang spesial. 

Jadi, apakah setiap anak itu dilahirkan untuk tujuan tertentu? Ya. 

Apakah adik dilahirkan untuk menjadi penjaga kakaknya? Ya, tapi tidak selalu. Bagi saya, keluarga itu sanctuary. Tempat yang memberi rasa aman, nyaman,  terlindungi, walau sedang diterpa berbagai masalah kehidupan. Bisa jadi untuk kasus Gang Tae dan Anna, merekalah yang menjaga sang kakak. Tapi, di keluarga lain, ada kakak yang harus menjaga adiknya. Ada banyak orangtua yang menjaga anak-anaknya. Karena fungsi keluarga itu saling menjaga. 

Saya yakin Allah ciptakan sesuatu tak ada yang sia-sia. Pasti ada maksud di dalamnya. Termasuk juga takdir bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih ingin lahir dari rahim siapa. Kita tak bisa memilih akan bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih jadi adik atau kakak. Inilah takdir. Ketetapan Allah. Dan saya yakin, ketetapannya PASTI BAIK. Boleh jadi menurut kaca mata manusia yang dhoif ini terlihat tidak adil, terlihat tidak manusiawi. Tapi, Allah Yang Maha Mengetahui yang nampak dan tersembunyi. Ia yang mengetahui hikmah dibalik peristiwa. 

Tuk bahasan hukum donor, lain kali saya tuliskan. Insyaallah. 

Lagi pula, Allah sudah nyatakan, "Tidaklah aku membebani manusia diluar kemampuannya". Allah yang menakdirkan keadaan, lebih tahu kesanggupan diri kita untuk melaluinya. Kita hanya diminta untuk bersabar menjalaninya. Semoga menjadi jalan pahala untuk meniti surga Nya. 

Wallahu'alam bish shawab. 

Minggu, 07 Juni 2020

Parent and Children Relationship Goals

Uju and Ikjun

(Idntimes) 


Manusia itu makhluk sosial, kita membutuhkan satu sama lainnya. Apalagi anak-anak. Mereka membutuhkan sosok orangtuanya, ayah dan ibunya. Maka, muncullah harapan hubungan antara anak dan orangtua ini. 

Dalam drakor yang baru saja selesai, saya menemukan relationship goals, bukan hanya antara teman, tetapi juga antara ayah dan anak. 

Ya, di dalam drakor Hospital Playlist, cerita tentang Ik jun dan Uju selalu saya tunggu. Hebatnya sang ayah yang walau seorang dokter, sibuk dengan pekerjaannya, selalu menyempatkan dan menikmati kebersamaan bersama anak laki-lakinya, Uju. 

Favorite Person

(bitchesoverdrama) 


"You are my favorite person in the entire universe"

Ini jadi kalimat favorit saya sepanjang drama. Terharu. Orangtua, khususnya saya, tak selalu percaya diri bisa membimbing, mengurus anak-anaknya dengan baik. Tapi, anak-anak selalu percaya, orangtuanya, baik ibu juga ayahnya, adalah yang terbaik untuk mereka. Buktinya, lihatlah senyuman anak-anak kala orangtuanya datang. Perhatikanlah paniknya mereka kala ditinggal orangtuanya, padahal hanya ditinggal ke kamar mandi. 

Betapa anak-anak akan berulah seribu satu macam gaya untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Mereka pun akan marah dan tak suka kala orangtua tak memperhatikannya. 

Walau hanya pencapaian yang bagi kita "cuma gtu doang", tapi anak-anak akan senang memperlihatkannya pada kita, orangtuanya. Kenapa sampai harus diperlihatkan pada kita? Karena kitalah orang yang paling penting bagi anak-anak di alam semesta ini. 

Betapa anak-anak ingin selalu ada di dekat kita. Mengikuti kemana kita pergi. Bahkan, banyak ibu yang harus membawa serta anak-anaknya ke dalam kamar mandi kala buang air. Saking tidak maunya anak-anak ditinggalkan. 

Have Fun

(idntimes) 

Hubungan dokter Ikjun dan Uju mengingatkan saya untuk have fun bersama anak. Bahkan dari sejak kemunculannya di episode pertama, momen helm Darth Vader dan pedangnya yang dipakai Ikjun menjadi gambaran bahwa ia senang bermain bersama anaknya. 

Main bersama anak itu sangat berarti untuk perkembangan anak. Bahwa kita, orangtua ada untuk mereka. Kita bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga ikut menikmati dan bersenang-senang bersama mereka. 

Ada empat manfaat orangtua main bersama anak dilansir dari situs jhonsonsbaby:

1. Menyehatkan 

Main bersama akan membuat tubuh aktif bergerak, sehingga fisik anak pun terlatih. Fungsi organ tubuh pun akan bekerja secara optimal. Tubuh dapat membakar lemak, aktif mengeluarkan kotoran bahkan racun dalam tubuh lewat keringat, melatih ototnya menjadi lebih lentur dan kuat. Secara psikis, mendampingi anak bermain akan menumbuhkan sikap percaya diri dan keberaniannya. Karena ia merasa aman akan hadirnya kita di dekatnya. 

2. Peka terhadap tumbuh kembang anak

Main bersama anak berarti kita menghabiskan waktu dengan mereka. Berarti, kesempatan memperhatikan mereka. Memperhatikan tumbuh kembangnya. Si kecil sudah bisa apa saja. Mana yang sudah dikuasi dan mana yang harus distimulus. 

3. Mempererat ikatan emosional

Berbagi momen bersama akan mempererat ikatan emosional antara orangtua dan anak. Ikatan yang membuat anak nyaman berada di dekat orangtuanya. Ikatan yang membuat anak nyaman dengan lingkungannya. Sebagaimana ikatan dari dalam rumah memiliki peran penting untuk melatih kemampuan sosial dan emosionalnya di masa mendatang. 

4. Mengurangi stress pada orangtua dan anak

Menikmati waktu bersama, tertawa dan bercanda bersama akan memberikan kebahagiaan dan momen yang berarti bagi orangtua dan anak. Stress dan rasa khawatir yang ada pada orangtua, juga ada pada anak. Waktu main bersama, menjadi salah satu waktu yang menghilangkan stress tersebut. Sehingga akan mengurangi stress baik itu pada orangtua atau anak. 

Kita, orangtua memiliki peran yang tak tergantikan oleh orang lain. Bahkan oleh kakek neneknya sekalipun. Buatlah quality time bersama buah hati. Ingatlah bahwa anak adalah titipan ilahi. Jangan disiakan atau diabaikan. Bersyukur dan bersabarlah selalu menghadapi dan membimbingnya. 

Karena bagi anak-anak, orangtualah pusat semestanya. Orangtualah segalanya. Seperti kata Uju pada ayahnya, "You are my favorite person in the entire universe". 

Senin, 01 Juni 2020

3 Pesan Setelah Nonton "Hi Bye Mama! "

(asianwiki) 

Hi bye mama! Dari judulnya saja sudah ketebak kalau drama ini akan penuh dengan adegan yang menguras air mata. Banyak mengandung bawang kata netijen jaman now mah. Tapi, hebatnya, trailer yang bertebaran sebelum drama ini dimulai ga ada sedih-sedihnya, justru lebih ke lucu. 


Drama yang menceritakan tentang seorang ibu yang memilih untuk menyelamatkan bayinya daripada nyawanya sendiri. Ibu ini, Cha Yu ri, tak rela meninggalkan dunia, sehingga ia menjadi arwah gentayangan. Setiap hari dia bermonolog akan segera pergi "ke atas" setelah melihat anaknya, Seo Woo, bisa merangkak, bisa berjalan, dan seterusnya. Begitu saja sampai 5 tahun akhirnya ia menjadi arwah gentayangan. Setiap hari pun, ia berdo'a agar Tuhan membiarkannya hidup sebentar saja agar bisa membersamai anaknya. Apalagi Seo Woo diduga bisa melihat arwah karena ia selalu menempel padanya selama 5 tahun. 

Hidup Kembali

Dan yap, keajaiban terjadi. Seperti mimpi, suatu hari, ia pun seolah terlahir kembali seperti manusia. Walau bingung, kenapa hal ini terjadi padanya tapi tidak pada teman-teman arwahnya yang lain. Ia hanya diberi waktu 49 hari di dunia sebelum akhirnya harus 'naik ke atas'. Cha yu ri tak melepaskan kesempatan ini. Ia berusaha mendekat pada anaknya, dengan menjadi pegawai catering di sekolah Seo Woo. PDKT dengan ibu baru Seo Woo yang akhirnya diijinkan menjadi penjemput dan pengasuh Seo Woo selama ibu baru ini bekerja. Untuk menikmati waktu bersama Seo Woo juga untuk mengusir arwah yang tinggal di sekitar Seo Woo. Agar Seo Woo tak lagi melihat arwah. 

Selain untuk anaknya, Yu ri pun beraktivitas bersama sahabatnya yang sudah seperti kakaknya sendiri. Bercerita, menikmati waktu mengobrol bersama. Yu ri juga do something untuk keluarganya; mengirimkan obat untuk sakit ibunya.Walau awalnya enggan menemui keluarganya, akhirnya Yu ri tinggal bersama keluarganya. 

Ada perasaan hangat yang menyelimuti saya saat melihat Yu ri tidur dalam dekapan ibunya, adiknya, juga ayahnya. Ibunya pun senang memanggil Yu ri berkali-kali. "Yu ri aah. Yu ri aah" 😢

(Soompi) 



Not Flat

Tentu saja, semua misinya tak berjalan mulus. Ada masalah yang harus diselesaikannya dengan suaminya, istri baru suaminya, sahabatnya, teman-teman arwahnya, juga keluarganya. 

(Cnnindonesia) 


Drama ini pun diselipi adegan yang mengundang gelak tawa penonton. Khususnya tingkah laku suami sahabatnya Yu Ri, sang dokter mental. Dari mulai setelan pakaiannya yang nyetrik, caranya memposting foto di medsos, cukup membuat saya bisa tertawa. 😂

(youtube) 


3 Pesan

Drama yang dibanjiri tetesan air mata setiap episodenya, membuat saya menangkap setidaknya 3 pesan. 

Pertama, hargai setiap waktu kita dengan keluarga. Baik itu pasangan, orangtua, anak, adik atau kakak. Karena kita tak tahu kapan kita akan berpisah dengan mereka. Jangan sampai saat berpisah justru menjadi saat yang sangat disesalkan karena kita belum optimal mengekspresikan kasih sayang, Cinta dengan tingkah laku kita pada mereka. 



Kedua, benarlah kata lagu yang mengatakan kasih ibu sepanjang masa. Alias tak terbatas waktu. Betapa Cha yu ri sangat sayang pada Seo Woo. Betapa ibunya Yu ri sangat sayang pada Yu ri hingga setiap hari pergi ke kuil untuk berdo'a. Orangtua akan tetap khawatir akan keadaan anaknya, walau anaknya sudah dewasa, sudah menikah, bahkan sudah meninggal. 

Wajarlah jika Rasul pun menempatkan posisi ibu tiga kali dari ayah.
"Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini." Rasul menjawab, "Ibumu." Kemudian dia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." "Kemudian lagi, ya Rasul," tanya orang itu. "Rasul menjawab, "Ibumu." Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; "Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?" "Bapakmu," jawab Rasulullah.

Ketiga, jangan sepelekan kekuatan do'a. Apalagi do'a orangtua bagi anaknya. Maka, berhati-hatilah para orangtua, jangan sampai lisannya mendo'akan keburukan bagi anaknya. Dan bagi yang masih mempunya orangtua, jangan sia-siakan wasilah diijabahnya do'a. Mintakan orangtua kita mendo'akan kita. 

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud)

Karena banyak adegan yang mengandung bawang, jangan lupa siapkan sapu tangan atau handuk untuk mengusap air mata. Juga untuk mengompres mata yang bengkak akibat menangis. Jangan lupa, implementasikan pesan yang sudah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Jangan sampai menyesal kemudian. 

Happy watching.. 

Kamis, 21 Mei 2020

Matinya Fitrah Ibu

(Sumber gambar: nakita) 

“I though about week later they might be dead. I didn’t feel like I should return home to save them”.

(japantimes.co.jp, 1/8/2010)

(Sumber gambar: Youtube) 

Sanae Shimomura, 23 tahun, tega mengunci kedua anaknya, Sakurako Hagi 3 tahun dan Kaede Hagi 1 tahun, di dalam apartemen. Ia meninggalkan anaknya selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya kedua anak tersebut ditemukan sudah membusuk di dalam apartemen. Namun, sang ibu tidak menyesal atas kematian kedua anaknya.

----------------------------------------------------------------------------------

“Paman melakukan hal mengerikan padaku. Dia menaruh lipstik ibuku di bibirku. Dan mendorongku keras-keras. Lalu, ibu pulang. Ibu memukuliku, sambil berkata, aku kotor. Lalu, dia memasukkanku ke dalam keresek sampah. Dan membuang sampah kepadaku. Kemudian, ia menaruhku di luar rumah. Paman bilang, aku akan mati kalau tetap di dalam keresek sampah. Tapi, ibu malah bilang,’Aku tidak peduli! Malah bagus kalau begitu’”. (Mother, episode 14)

Real Story

Kematian  mengenaskan yang dialami oleh Sakurako dan Kaede bukan cerita belaka. Ia nyata. Kantor berita di negeri matahari terbit itu menggambarkan adik kakak Hagi ini ditemukan kurus kering. Dalam keadaan telanjang, terlentang diantara tumpukan sampah. Hasil autopsi mengatakan tak ditemukan sisa makanan dalam saluran cerna keduanya. Diduga, kedua anak Sanae ini meninggal karena kelaparan.

Kasus kekerasan terhadap anak oleh ibunya. Kasus pengabaian anak oleh ibunya. Dan kasus senada, kini kian sering terjadi. Bak musim jamur kala penghujan. Hingga saking banyaknya, diangkatlah ia menjadi film. Sebagaimana kasus pengabaian anak di atas diangkat menjadi sebuah film yang berjudul “Sunk into the Womb” pada tahun 2016.

Tak hanya di Jepang, Korea pun merilis film bergenre sama. Tentang penganiayaan anak oleh ibunya. Walau bukan kisah nyata. Drama “Mother” ini mewakili kisah kekerasan anak oleh ibu dan pasangannya yang juga menjamur di Korea sana. Tak cukup Jepang dan Korea, kasus yang sama pun terjadi di negeri kita tercinta. Indonesia. Hingga lahir salah satu filmnya tahun 2016, “Untuk Angelina”. Bukan hanya Jepang, Korea, Indonesia, tapi sebagian besar negara di dunia ini bisa jadi memiliki kasus yang serupa. Walau tak semuanya diadopsi ke layar kaca. 

Sedih. Iba. Marah. Benci. Semua bercampur rasa di dada. Heran seheran-herannya. Mengapa bisa ibu yang mengandung, melahirkan darah dagingnya sendiri begitu tega mengabaikan, menganiaya anaknya? 

Sekulerisme Biang Keladi

Berderet kasus pilu terjadi menimpa anak-anak tak berdosa. Alasannya pun terasa remeh. Ingin punya waktu luang. Merasa beban dalam mengurus anak. Apalagi suami tak membersamai. Hilang dengan wanita lain. Tak mau bertanggungjawab atas ibu dan buah hatinya.

Perempuan memiliki fitrah mencintai anak-anak. Mengasihi dan menyayangi anak-anak. Karena itu, pengasuhan diberikan kepada ibu. Bonding antara anak dan ibu pun terjadi lebih intens. Mulai dari proses kehamilan. Janin yang berada dalam tubuh ibu bisa merasakan apa yang ibu rasakan. Maka, sering kita dengar  kalau ibu hamil harus mengatur emosinya. Tidak boleh stress karena akan mempengaruhi kondisi janin. Hal ini berlanjut setelah melahirkan. Ibu harus menyusui sang bayi dalam hitungan jam. Ini adalah fase lanjutan bonding antara anak dan ibu. Demikian seterusnya. 

Bahkan pelukan dari orangtua, khususnya ibu bisa membawa keajaiban bagi sang buah hati. Kala demam melanda, pelukan skin to skin bisa membuat demam reda. Saat sakit menghampiri, pelukan bisa menstimulus keluarnya hormon endorphin. Hormon ini adalah natural pain killer. Hingga tak heran kala anak sakit, ia ingin selalu digendong, dipeluk, tak mau lepas dari ibu.

Sayangnya, fitrah ibu nan mulia ini telah rusak bahkan mati pada sebagian ibu. Bukan cinta yang hadir kala bersama anak, namun benci dan amarah. Karena menganggap anak sebagai beban, bukan anugerah. Ini hadir karena racun sekulerime mencengkram dalam benak manusia masa kini. 

Sekulerisme. Paham memisahkan agama dari kehidupan. Membuat hidup kering kerontang. Kering dari keimanan. Lemah tak berdaya karena tiada Rabb sebagai tempat bersandar. Tiada Rabb untuk tempat mengadu. Semua terasa berat karena dipikul sendiri. Tak punya tempat bernaung. Tak ada yang diandalkan. 

Sayangnya, paham ini laku keras saat ini. Agama jadi hal yang kuno untuk dibicarakan. Keberadaan Tuhan mulai dipertanyakan. Kewajiban pun terasa menjadi beban. Hingga terombang-ambinglah dalam kehidupan.

Kembali dalam Pelukan Agama

Coba kalau para ibu memiliki keimanan sekokoh karang. Badai sekencang apapun. Sebuas apapun. Para ibu akan bertahan. Karena dengan iman, ibu percaya, ada Allah bersama mereka. Allah, Rabb Pencipta Alam semesta dan seluruh isinya jauh lebih hebat daripada masalah kita. Dengan mendekat pada Allah, para ibu punya sandaran yang tak terkalahkan. 

Fitrah ibu pun akan tetap terjaga. Masalah finansial, akan yakin dengan konsep rezeki. Haqqul yakin bahwa rezeki itu dari Allah, bukan dari suami, dari atasan. Tentu diiringi dengan ikhtiar yang sesuai syaria’t Islam. Masalah rumah tangga, selama berpegang pada agama, insyaallah dinaungi oleh Allah swt. Bukan berarti rumah tangga tanpa masalah, tapi masalah akan terlihat kecil jika kita sudah yakin ada Allah yang Maha Besar. Allah akan tunjukkan solusi dari setiap permasalahan kita.

Sehebat apapun negara di mata dunia, tapi kalau sekulerime sudah bercokol disana. Lihat dan tunggulah kehancurannya. Mulai dari institusi negaranya, sampai ke institusi keluarga. Karena tak mau diatur oleh agama. Menganggap agama sebagai candu. Padahal aturan yang mereka buat penuh cela. Menimbulkan permasalahan di atas permasalahan lainnya. 

Sudah saatnya kita kembali dalam pelukan agama. Singkirkan racun pemisahan agama dari kehidupan dunia. Justru dunia kita butuh agama. Butuh aturan dari Rabb Pencipta Alam Semesta. Yang tak pernah salah memberikan aturan-Nya dalam mengatur dunia dan seisinya. Pun kita, harusnya percaya, bahwa aturan Allah itu yang terbaik bagi kita. 

Wallahua’lam bish shawab