Rabu, 01 Juli 2020

Antara Reality Show dan Drama



Korea Selatan, selain bertabur drama, juga dipenuhi dengan ragam acara. Reality show. Pertama kali saya berkenalan dengan reality show Korea, saya menonton reality shownya super junior. Sudah lamaaa sekali, sampai saya lupa judul reality shownya apa. Yang pasti itu menceritakan tentang SuJu bersama dua orang gadis bule. Mereka belajar bahasa inggris bersama dua gadis bule ini. 

(Pinterest) 

Setelah habis, masih terhebos kpop, saya menonton WGM alias We Got Married, season awal banget. Tapi, tak semua pasangan saya tonton. Segimana dikasih 'bandar' aja.. Hehe.. Yang saya ingat ada pasangan Yong Hwa CN Blue dengan Soe Hyun SNSD, ada Victoria fx dengan Nickhun 2pm, ada Gain dengan JoKwon 2am (bodor ini, dua yoebo yang rumah awalnya semi dari mobil gtu). 

Lalu, lalu, saat kuliah, disela jam menunggu dosen, para mahasiswa ngampar duduk di depan laboratorium. Ternyata, eh ternyata, pada nonton Running Man. Waaah... Nobar di depan lab dong. Ketawa ketiwi bareng. Dari episode satu sampai ratusan. Itu flashdisk sampai mengantri. Kayak pas ngantri minta materi kuliah ke asisten dosen. 

(Pinterest) 

Saya sempat ga kenal alias pangling dengan Song Ji Hyo di Running Man, padahal doi jadi second female lead di Princess Hours. Lebih cantik rambut panjang pas di RM. 

RM atau Running man ini variety show yang full game. Isinya berbagai permainan dengan ending beragam hadiah. Permainannya asyik, bisa dipraktekkan saat gathering. 

Episode awal yang terngiang sampai sekarang adalah saat mereka main game bikin minum. Mereka diminta milih nomor untuk menentukan jenis sendok, jumlah jeruk nipis atau lemon yang dipakai. Kocak abizzz. Ngakak so hard. Bayangin deh yang kebagian sendok sayur buat gula dengan jumlah jeruk yang banyak sementara gelas ngan sakitu na. Atau bayangin pas dapet sendok mini tuk gula, sementara jumlah jeruknya banyak. Hasyeeem. Ekspresinya lucu. 

Di Running Man juga image Song Joong Ki terkuak. Ketauan clumsynya. Mian para fans Song Joong Ki. Padahal di drama apalagi DoTS kan keliatan cool banget. Hancurlah imagenya. Wajar kalau oppa satu ini ga lanjut di RM. Jaga image kali ya. 
(Pinterest) 


By the way, Running man ini satu- satunya variety show yang saya tonton dari awal episodenya. Walau akhir-akhir ini belum nonton lagi. Mamak letih, lebih milih bobo dari pada nonton. Kalau dulu mah, wah, sambil nyetrika nonton bareng keluarga, hampir TIAP MALAM. Ngeracun banget kan si aku. 

Awalnya sih nonton di laptop pakai earphone sendirian. Ngakak sendirian. Eh, akhirnya, nobar di TV. Ternyata, semuanya suka. Pada hafal sama membernya Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, Haroro, Gary, Kim Jong Kook, Lee Kwangsoo, Song Ji Hyo, Song Joong ki. Walau sekarang Joongki dan Gary keluar, ada ganti dua member baru yang tak kalah kocak, Jung So Min dan Yang Se Chan. 

Kalau orang-orang kabita makanan saat nonton drakor, saya dan suami (yang ikut teracuni RM) justru ikut kabita saat nonton RM. Saat episode permainannya seputar kuliner. Jajangmyeon, Mandu, Bibimbap, Samgyetang, Ramyeon, Naengmyon, daaan masih banyak lagi. Tentu bukan sekedar kuliner biasa, tapi diselingi permainan yang mengundang gelak tawa. Bahkan tak jarang yang bisa makan hanya beberapa orang saja. Tak semua member bisa makan.  Watir pisaan. Hanya bisa memandang. Atau cuma dikasih nasi kepal sama rumput laut. 

Betrayal, jangan percaya satu orang pun saat main di RM. Ga baik ini. Tapi, kocak karena semua member sudah tahu para betrayal itu nya eta-eta keneh. Yang pasti ya, Kwangsoo. Hoho. Kwangsoo bahkan bisa betray timnya sendiri demi keuntungannya. Walau lebih sering gagal karena ketahuan duluan. 

Karena ini reality show, no jaim jaim. Saya pun jadi tahu karakter asli para aktor dan aktris, beda sama di drama. Seperti Sang Yoeb yang jadi pemeran antagonis di While You're Sleeping. Doi beberapa kali diundang ke RM, dan beneran kocak. Sampai saya pikir dia akan direkrut jadi member saking seringnya diundang. Apalagi pas road trip ke Jepun. Lucu. 

Intinya, RM menjadi variety show yang masih saya tonton dari awal episode sampai sekarang. Ada variety show yang lain? Ada. Ga seintens RM, tapi pernah mengikuti banget. Karena cutenessnya overload. Apa coba? Yup. Para bayik dan ayahnya. The Return of Superman. 

(Soompi) 

Saya nonton sejak ada twins, So eun dan so jun. Ada triplet yang heboh dan berbeda, Daehan Minguk Manse. Ada sarang yang bapaknya pemain UFC, sekarang ikut bela diri apalagi gtu. Sampai akhirnya bergabung Daebak dan kakak-kakaknya. Dan sekarang Gary dengan anaknya HaO yang jenius. 

Saya sangat senang melihat anak-anak. Mereka tu masih polos, fitrah, suci, lugu. Kalau pun bandel suka ada aja bodornya. Dan mereka itu pintar, banget. 

Mereka belajar manners saat makan. Meminta maaf, berterima kasih, menunggu, dll. Apalagi waktu triplet Daehan Minguk Manse, bapaknya rajin bikin percobaan ke anak-anaknya. Anak-anak nya dikasih kasus, dilihat bagaimana responnya. Apakah menjalankan sesuai teori yang sudah diberikan atau tidak? Salah satunya sewaktu triplet kena hukum, satu per satu masuk ke dalam kamar dan diminta introspeksi sambil menghadap dinding. Sang kameramen, sesuai arahan ayahnya triplet, mengeluarkan robot yang berbicara (ayahnya yang ngomong). Setiap anak responnya berbeda. Daehan yang disiplin betul-betul menahan diri untuk menoleh dan menjawab si robot. Karena aturan dari ayahnya, kalau sedang instrospeksi tak boleh bicara atau menoleh. Sementara Minguk dan Manse yang lebih bebas langsung menjawab dan mengobrol dengan si robot. 

(Pinterest) 

Sekarang triplet sudah pada besar. Saya follow akun ig nya. Jadi kadang masih suka mengintip kesibukan mereka. Dan mereka masih cute dan menggemaskan. Bahkan, saat saya hamil dan bilang pada suami ingin anak seperti Daehan, cool, gtu. Suami malah bilang ingin anak seperti Manse, free spirit. Dan, terkabulkan do'anya. 😅 ini 3 anak lebih dominan free spiritnya. 

(Soompi) 

Variety show The Return of Superman tak saya ikuti lagi sejak melahirkan. Walau masih suka intip-intip via ig. Dan sekarang ku senang melihat HaO dan Gary setelah sebelumnya senang melihat neng Na Eun (bukan Na Eun yang jadi second female lead di Dinner Mate yaa). Masyaallah banget, neng Na Eun bisa bahasa Inggris, Jerman, Spanish, dan Korea saat usia masih kecil begitu. Udah mah geulis, bageur. Tapi, tetep suka ada perdebatan dalam kepala. Ngapain ngeliatin anak orang main sama bapaknya, mending main beneran sama anak sendiri. 😅 akhirnya, the return of superman pun hanya bisa diintip saja. 

Sekian ulasan saya tentang variety show dari negeri Ginseng yang saya ikuti dan pernah saya ikuti, yang menjadi favorit saya. 

Rekomendasi dari saya, kalau kamu termasuk yang butuh hiburan, dengan berbagai permainan, kamu bisa coba tonton Running Man. Kalau kamu sama seperti saya, senang dengan anak-anak, kamu bisa lihat The Return of Superman. Kalau kamu senang yang romantis-romantis, kamu boleh coba tonton We Got Married. 

Mau tahu gimana pendapat teman-teman saya tentang variety show di Korsel sana. Yuk, cekidot. 

Fungsi Adik untuk Kakak


(Detik) 

"Aku melahirkanmu agar kau merawat dan melindungi kakakmu" katanya sambil memeluk lelaki kecil itu. 

Cuplikan dialog drama korea terbaru ini cukup mengganggu pikiran saya. It's okay to not be okay sukses mencuri perhatian drakorian. Setelah kemarin-kemarin per drakoran banyak dengan tema serong alias selingkuh, kini ramai tema tentang mental illness, beraroma psikologi, salah satunya drama It's okay to not be okay atau psycho but it's okay. 

Male lead drama ini diperankan oleh Kim Soo Hyun, menjadi Gang Tae, yang GanTeng  😅. Dari kecil ia harus merawat kakaknya yang keterbelakangan mental karena ibunya meninggal. 

Sang ibu pun saat mabuk menyatakan pada Gang Tae kalau ia melahirkannya untuk merawat dan melindungi kakaknya, Sang Tae yang keterbelakangan mental. Sebelumnya pun, sang ibu memukul Gang Tae karena kakaknya dipukuli oleh orang, padahal ibunya memasukkan Gang Tae ke tempat les bela diri agar bisa melindungi Sang Tae. Belum lagi scene saat hujan turun juga saat tidur, fokus ibunya hanya untuk Sang Tae. Sehingga Gang Tae pun memancarkan aura sedih pada wajahnya. 

Kenapa episode 4 ini sangat mengganggu pikiran saya? Saya ingat film Barat yang bercerita tentang kakak yang terkena leukimia akut, dan oleh dokter, sang adik disarankan menjadi penyelamat kakaknya. Dengan mendonorkan darah, organ, juga jaringan tubuhnya agar kakaknya tetap hidup. My sister keeper, judulnya. 

(Pinterest) 


Saat sang kakak mengalami gagal ginjal, Anna, sang adik yang baru berusia 11 tahun dipaksa orangtuanya untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk sang kakak. Anna yang bercita-cita sebagai cheerleader diperlihatkan tak ingin mendonorkan ginjalnya. Karena dengan mendonorkan ginjalnya, kemungkinan besar ia akan menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Bermain bola, menjadi anggota cheerleader, bahkan menjadi seorang ibu. 

Gang Tae dan Anna sama-sama dilahirkan untuk menjaga keberlangsungan hidup sang kakak yang spesial. 

Jadi, apakah setiap anak itu dilahirkan untuk tujuan tertentu? Ya. 

Apakah adik dilahirkan untuk menjadi penjaga kakaknya? Ya, tapi tidak selalu. Bagi saya, keluarga itu sanctuary. Tempat yang memberi rasa aman, nyaman,  terlindungi, walau sedang diterpa berbagai masalah kehidupan. Bisa jadi untuk kasus Gang Tae dan Anna, merekalah yang menjaga sang kakak. Tapi, di keluarga lain, ada kakak yang harus menjaga adiknya. Ada banyak orangtua yang menjaga anak-anaknya. Karena fungsi keluarga itu saling menjaga. 

Saya yakin Allah ciptakan sesuatu tak ada yang sia-sia. Pasti ada maksud di dalamnya. Termasuk juga takdir bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih ingin lahir dari rahim siapa. Kita tak bisa memilih akan bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih jadi adik atau kakak. Inilah takdir. Ketetapan Allah. Dan saya yakin, ketetapannya PASTI BAIK. Boleh jadi menurut kaca mata manusia yang dhoif ini terlihat tidak adil, terlihat tidak manusiawi. Tapi, Allah Yang Maha Mengetahui yang nampak dan tersembunyi. Ia yang mengetahui hikmah dibalik peristiwa. 

Tuk bahasan hukum donor, lain kali saya tuliskan. Insyaallah. 

Lagi pula, Allah sudah nyatakan, "Tidaklah aku membebani manusia diluar kemampuannya". Allah yang menakdirkan keadaan, lebih tahu kesanggupan diri kita untuk melaluinya. Kita hanya diminta untuk bersabar menjalaninya. Semoga menjadi jalan pahala untuk meniti surga Nya. 

Wallahu'alam bish shawab. 

Jumat, 26 Juni 2020

Belajar Hangeul? Siapa Takut!


(Pinterest) 


Assalamu'alaikum... Annyeong chingudeul. Gimana PSBB nya? Masih betah di rumah aja? Ingat ya, walau sudah ada relaksasi PSBB, pandemi virus Corona belum usai. Buktinya, di Bandung, jalan protokol kembali ditutup gegara bertambah banyaknya orang yang positif covid 19. Daripada keluyuran, wisata dalam situasi seperti ini. Mending kita ngobrol dimari. 

Kali ini, saya mau bahas tentang hangeul. Apa itu hangeul? Bukan, akang Ha Neul. Bukan. Tapi Hangeul, alfabetnya Korea. 

Bertahun-tahun menapaki jalan menjadi drakorian, terbesit hasrat hati ingin juga tahu dan paham tulisan bulat-bulat dalam drakor. Ingin juga bisa menulis dengan hangeul. Apalagi saya suka belajar bahasa. 

Sayangnya, walau saya senang belajar bahasa. Saya lemah kalau bahasa asing yang saya pelajari berbeda dengan alfabet bahasa Indonesia. Bahasa inggris okelah, alfabetnya sama. Nah, kalau sudah berbeda simbolnya, saya sangat sangat kesulitan. 

Jangankan hangeul, hiragana dan katakana yang saya pernah belajar pun hilang entah kemana. Muruluk seiring berjalannya waktu. Atau jangankan hiragana katakana, bahasa arab yang iqronya sudah dibaca sejak kecil, saya masih sangat sangat kesulitan. Berulang kali ikutan kelas bahasa Arab, tetep aja kalau mensyakal mah pakai feeling. Astagfirullah.

Jadi, kalau ditanya sebagai drakorian apakah tertarik belajar hangeul. Oh, tentu saja tertarik. Tapii, saya tidak akan berharap terlalu banyak. Hehe. 

Saya punya motivasi tuk belajar bahasa asing. Ingin bisa berbagai bahasa. Walau sekarang juga sudah bisa kurang lebih 3 bahasa: bahasa Indonesia, bahasa sunda, bahasa Palembang. Hehe. 

Siapa tahu diberikan kesempatan dan rezeki bisa mengunjungi Korea dan menjelajah disana. Tentu harus tahu setidaknya sedikit hangeul. Karena khawatir tidak semua tempat ada tulisan alfabet inggrisnya. Atau siapa tahu dapat buah tangan dari negeri ginseng sana. Kalau dapat makanan, kan bisa cek kehalalannya kalau bisa baca hangeul. 

Atau sebagai drakorian, kadang suka tak sabar menanti subtitle Indonesia atau inggris keluar. Kalau bisa hangeul kan bisa ikut menyimak walau tanpa subtitle. 

Atau atau kalau suatu saat mau curhat tapi takut ketahuan, maka memakai hangeul jadi salah satu solusinya. Apalagi saya tipe yang lebih senang menulis daripada bicara. Takut baper duluan. Heu. 

Atau jadi guru, haha. PD amat yak. Tapi, karena memang senang mengajar, siapa tahu nanti saya bisa ngajar hangeul kalau saya menyeriusi belajar hangeul. Apalagi arus globalisasi semakin besar. Semakin banyak Han guk saram yang datang ke Indonesia, datang ke Bandung, untuk berbagai keperluan. Dan semakin banyak juga orang Indonesia yang ingin ziarah ke Korea. Melihat langsung lokasi-lokasi syuting drama atau film favoritnya. 

Jadi, mau yak belajar Hangeul? Mau doong. Kapannya yang harus segera dipetakan biar mau tak sekedar lip service semata. Biar mau tak cuma angan belaka. 

Do'akan saya ya chingudeul. 

Yuk baca juga tulisan teman-teman drakorian saya yang lainnya tentang hangeul ini. 

Selasa, 23 Juni 2020

Belajar Bahasa Korea dari Drakor


Assalamu'alaikum.. Annyeong chingudeul.. Masih nonton drakor? Amankah tagihan listriknya? Hehe. Ga banget deh ya nonton drakor dikaitkan dengan naiknya tagihan PLN. 

Okay, kali ini saya mau bahas tentang kata-kata apa aja sih yang suka ikut dipakai dalam kehidupan sehari-hari setelah jadi drakorian. 

(Pinterest) 


Sepanjang perjalanan saya jadi penonton drakor ada lumayan banyak kata yang saya tahu. Apalagi saya memang tipe audio visual saat belajar. Sama seperti belajar bahasa Inggris, jumlah kosa kata bertambah banyak setelah menonton dengan bahasa inggris dan mendengarkan lagu. Kenalan, tahu dan hafal kosa kata bahasa korea juga saya dapatkan setelah menonton dan mendengar lagu-lagu korea juga membaca artinya. 

Saya tahu lumayan banyak kata, tapi saya belum bisa membedakan dengan benar bagaimana cara menggunakannya. 

Kosa kata yang saya tahu diantaranya:
1. Orang: Chingu (teman),  omma (ibu),  omonie (ibu), appa (ayah), aboniem (ayah),  ahjussi (paman), samchun (paman),  halmonie (nenek), harabojie (kakek), hyung (kakak laki2), oppa (kakak laki2 dipanggil sama adik perempuan), noona (teteh),  unni (teteh dipanggil sama adik perempuan), sunbae (senior).
2. Untuk sapaan: annyeong haseyo (halo, apa kabar),  chalgayo (selamat jalan), sillyehamnida (permisi), 
3. Untuk momen tertentu : chukkae yo (selamat), saengil chukkae (happy birthday) 
4. Ungkapan kasih: saranghaeyo (i love you),  saranghamnida (love you),  chuahaeyo (saya suka kamu) 
5. Digunakan sehari-hari: Ne (iya), aniya (tidak), opseumnida (tidak ada),  kamsahamnida (terima kasih),  komapsemnida (terima kasih), komawoyo (terima kasih), mianhamnida (maaf),  josoenghamnida (maaf), mianheayo (maaf), kwencanseumnida (tidak apa-apa), kwencanayo (tidak apa), arasseumnida (saya tahu), arassoyo (saya tahu), mollayo (tidak tahu), hwaiting (semangat), bogoshipo (rindu), mani mogo (makan yang banyak), mansoe panggawoyo (senang bertemu denganmu), hajima (jangan), phaegupa (saya lapar), himduroyo (capek), Kojimal (bohong), omona (astaga), amado (mungkin), aigo (aduh), chota (Bagus), an chota (tidak Bagus), chonchoni (pelan-pelan).

Ini beberapa kosa kata korea yang saya tahu. Dan dari semua ini ada beberapa yang terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. 

(Pinterest) 

Apa saja? 

1. Saranghae. This is it. Hoho. Of course. Kata inilah yang paling sering dipakai. Kenapa? Asa aneh atau geli aja gtu kalau mengungkapkan rasa pakai bahasa Indonesia. Terlalu formal kesannya. Menurut saya ya ini mah. Jadi, saya prefer mengungkapkan rasa pakai bahasa lain. Salah satunya ya bahasa korea. Ditambah sticker nya atau tanda heart dengan tangan. 

2. Annyeong. Kata sapaan ini jadi lebih sering saya pakai di blog. Ceritanya mau bikin kesan rasa yang lebih ngekorea (bahasa apa ini 😅). Karena isi blog ini banyaknya tentang kokoriyaan. 

3. Omo, bukan merk bukan juga aplikasi. Omo ini kependekan dari omona. Yang artinya astaga. Saya suka pakai kalau teman chat cerita tentang sesuatu yang membuat saya terkejut. 

4. Gomawo. Terima kasih. Kata ini suka saya lontarkan untuk mengungkapkan rasa terima kasih pada teman. 

Sebenarnya banyak kosa kata korea yang saya lebih nyaman digunakan pada teman. Apalagi via chat. Kenapa tidak digunakan pada keluarga? Karena saya bukan ibu yang ingin membiasakan anaknya berbahasa korea. Kalau pun ingin bilingual atau campur Sari bahasanya, nanti. Tunggu saya belajar bahasa korea dengan baik dan benar dulu. Baru PD mengucapkannya dan membiasakannya pada anak-anak. 

Ga usah dipakai buat anak-anak, buat sehari-hari aja. Lha, saya banyak di rumah aja. Ya sehari-harinya sama anak-anak. Pasti apa yang saya lakukan, termasuk yang saya ucapkan akan mereka ikuti. Khawatir salah. Salah artinya. Salah penggunaannya.
(Pinterest) 


Itu menurut saya. Yuk, simak gimana menurut teman-teman saya yang lain. 


Sabtu, 20 Juni 2020

Korean Food ala Drakorian



Assalamu'alaikum.. Annyeong chingudeul. Kali ini kita akan bahas seputar makanan korea. Buat drakorian, yang senang nonton drama, dimana banyak sekali adegan mereka makan-makan, ada rasa kabita sama makanan korea. 

Nonton full house, ngiler sama bibimbap nya. Nasi dibagian bawah, ditutupi lauk di atasnya. Ada sayur, daging, dan telur setengah matang dengan campuran bumbu. Lalu, diaduk aduk rata. Hmmm... Yummy terlihatnya. Apalagi saya termasuk pecinta telur setengah mateng juga. 

Saat ada adegan piknik, pasti ada kimbap disana. Nasi yang dibungkus lembaran kim (rumput laut) dengan isian daging, telur, wortel, bayam, timun. Sungguh menggoda. Apalagi saya juga suka nasi gulung begitu. Suka dengan rumput laut. 

Saat berulang tahun, biasanya akan adegan makan hidangan sup rumput laut. Karena saya suka rumput laut, jadi penasaran ingin bikin sup rumput laut. Sup rumput laut ini termasuk makanan rumahan, jadi tidak dijual di restoran korea. 

Untuk olahan mie, ada jajangmyeon si mie hitam yang manis dan gurih. Ada jampong, mie dengan isian laut, seperti udang, kerang, cumi, gurita, dilengkapi kuah merah yang hot. Ada juga naengmyon, mie dengan sup dingin yang diisi telur, kimchi, juga buah pir. Mie ini biasa dimakan saat adegan musim panas. Daaan, ada ramyeon, mie instan yang dimasak di panci kuningnya. Dengan bumbu kuah kental. Banyaaak sekali adegan drama makan ramyeon langsung dari pancinya. Slurp slurp..glek glek... Hmm... Masih terngiang bunyi para aktor menyeruput mie dan meneguk kuahnya. 

Untuk camilan, biasanya ada adegan jajan makanan di pinggir jalan di truk atau tenda makanannya. Ada tteokbokki, si kue beras dengan saus merahnya. Pajeon, si panekuk. Saya mah langsung inget sama bala-bala. Cuma, bedanya pajeon ini porsi sayurnya lebih besar, potongannya pun lebih besar dan pipih. Oden, makanan yang ditusuk dengan tusukan yang lebih besar dari tusuk sate. Diambil dari rendaman sup hangat. Makanan yang terbuat dari olahan ikan dan tepung, mengingatkan saya akan pempek. 

Terus, si saya suka ga sama makanan dari negeri ginseng itu? Well, ada yang suka, ada yang ga suka. Beda lidah, beda selera. 

(Pinterest) 


Ga cucok dengan lidah 

Saya bahas yang saya ga begitu suka dulu ya. 

Kimchi. Hoho. Punten ah. Walau kimchi jadi side dish yang selalu dan selalu ada di drakor. Waktu ku coba di resto kokoreaan yang katanya sudah menyesuaikan dengan selera Indonesia. B aja. Ga benci, ga juga suka banget. 

Nah, tetangga depan rumah yang sekarang pindah ke samping rumah. Pernah beberapa tahun tinggal di korea. Suaminya pun kerja sama orang-orang korea. Makan di kantin kantor pun makanan korea. Dan suka bikin kimchi. Saya mintalah sedikit kimchi kalau ibunya bikin. Apalagi ibunya cerita di rumahnya, khususnya suaminya suka banget kimchi jadi sering bikin kimchi. Dikasihlah semangkuk kecil kimchinya. Baru juga masuk rumah, beuh, diprotes mamak dong. Bau katanya. Haha. Pas diicip, aeh, kerasa banget bawang putihnya, agak asem, udah. Ga gurih, ga gimana gtu. Ibunya emang pernah bilang, makanan korea yang ga pakai micin tu kayak ga kerasa apa-apa. Bapaknya sang ibu yang pernah mampir ke korea pun protes. Ga berasa ceunah rasa makanannya. Hoho. Dan emang ibunya dan saya satu frekuensi tuk menjauhi micin. 

Jadi, dengan bau bawang putih yang menyengat, rasa asam dan agak hambar. Saya mah lebih milih kuah cuko pempek yang juga punya bau bawang putih menyengat tapi ada rasa manis dan spicy nya. Hehe. 

Yang kedua, tteokbokki. Sejak nikah dan ternyata suami doyan banget jajan. Saya jadi punya peluang tuk nyicip makanan-makanan korea. Pesennya bisa beragam, bisa icip-icip semua. Haha. Nah, salah satu yang waktu itu dipesan adalah tteokbokki ini. Kayak yang enaaak gtu pas nonton mah. Eh, pas dimakan. Lidah sunda saya protes. Haha. Ku lebih suka tekstur ciloknya mamake yang kenyal kenyal daripada tekstur si tteokbokki ini. 

Cucok dengan lidah

(Idntimes) 


Tuk yang pernah saya coba dan saya syuka. 

Kimbap. Mirip sama sushi. Dan saya suka nori atau kim. Jadi saya sangat menikmati membuat dan memakan kimbap ini. Apalagi kalau makan kimbap mah ga berasa banyak. Haha. Padahal udah abis dua gulung. 

Pajeon. Panekuk yang mirip bala-bala. Karena saya suka bala-bala. Anak-anak saya juga suka bala-bala. Kayaknya keluarga saya semuanya suka bala-bala deh. Hoho. Gorengan lovers. Jadi, pajeon juga suka. Walau akan mengeluarkan si daun bawang nan panjang itu. Kenapa sih ga dipotong kecil gtu. Heu. Protes. 

Ramyeon. Mie dengan tekstur yang lebih tebal dan kuah yang lebih kental dari mie instan lokal. Sukses membuat saya jatuh hati dengan teksturnya. Walau teteup kalau makan ramyeon, saya ga bisa pakai bumbunya. Hiks. Alergi menyerang kalau saya nekat. Tapi, suami saya suka. Dan setiap ke restoran kokoreaan, doi pasti pesen ramyeon. Kenapa ga jajangmyeon? Karena doi pernah icip di resto yang katanya dimasak sama orang Korea. Dan testinya, "Hambar, mi." Haha. 

Bibimbap. Seperti yang saya bilang tadi, saya suka dengan telur setengah matang. Apalagi dicampur dengan nasi hangat (ga panas nanti melepuh lidahku) juga lauk dan sayur mayurnya. Beuh. Mantap. Tapi tapi ku ga begitu suka bumbu bibimbapnya. Jadi biasanya disesuaikan dengan selera pribados. 

Mandu. Sebagai anak yang dibesarkan mamake makan siomay setiap lebaran atau hari spesial lainnya. Saya juga suka dengan mandu juga dimsum. Karena rasanya mirip. Dan ya, ku suka ku suka. 

Oden. Karena saya juga pecinta pempek. Wong kito galo. Beberapa tahun tinggal di Palembang. Rasa oden mirip dengan pempek. Dan ya, i'm in. Saya suka oden. Walau ga bisa makan banyak. Karena oden yang saya temui mengandung umpan, eh micin. Saya akan menderita setelah memakannya. Padahal enak banget. Apalagi anget-anget dimakannya. Dicampur sama ramyeon. Beuh.. 

Sekian. Referensi saya masih minim tentang kuliner korea. Nanti, kalau pandemi sudah usai, keadaan dompet sehat, dan diijinkan jajan. Saya mengazamkan diri mau coba makanan korea lainnya. Yang belum saya coba. Hehe. 

Yuk, baca juga tulisan teman geng saya tentang makanan korea. 

1. Gita

2. Rijo

3. Manda

4. Rian

5. Ima

6. Risna

7. Asri

8. Dwi


10. Nadya

11. DK




Jumat, 19 Juni 2020

Efek Jadi Drakorian



Nonton drakor apa faedahnya? Wasting time, iih. 

Weits, ada dong faedah nonton drakor. Dan ga semua jenis drakor ditonton. Tetap selektif, seperti tulisan saya yang lalu. 

Baca juga Nay to Watch

Emang ada faedahnya? Buat saya ada. Buat teman-teman drakorian juga ada. Nanti kita bahas di tulisan tema selanjutnya ya. 

Apa aja faedahnya? Faedah nonton drakor versi saya:
(Pinterest) 


1. Belajar Bahasa Korea

Annyoeng haseyo chingudeul. Sebagai pribadi yang senang bahasa. Saya suka belajar bahasa korea tapi sayangnya pusiang pala saya kalau liat hangul tuh. Beda kalau bahasa inggris kan hurufnya sama kaya bahasa Indonesia. Nah, oleh karena itu, saya mengandalkan pendengaran tuk belajar bahasa korea.  Yah, ga jago-jago amat sih. Tapi, familiarlah sama annyeong, jalga, oppa, omma, aboniem, sarang, adeul, aniya, daaan masih banyak lagi. Tar kita jabarkan satu-satu di tulisan tema selanjutnya ya. 

2. Belajar Budaya Korea

Dari nonton drakor, saya belajar budaya korea. Budaya korea yang jaman kerajaan dengan baju hanboknya yang cantik. Jadi tau warna-warni baju tradisionalnya. 

Jadi tau kebiasaan masyarakat negeri ginseng sana yang dekat dengan minuman keras. Orientasi mahasiswa, minum. Penyambutan pekerja baru, minum. Perpisahan, minum. Hayo we ngaleeut miras. Auto nyanyi Bang Roma, "Minuman Keras! Miras! Apapun namanyaaa... "

Jangan ditiru ini mah. Ga boleh ditiru! Jauhi! 

Yang ditiru apanya dong? Betapa mereka itu produktif, aktif. Punya plan jauh ke depan. Bersungguh-sungguh untuk menjalankan targetnya. Contohnya dari drakor Misaeng, saya belajar tuk terus berusaha keras. Belajar dan terus belajar, beradaptasi terus. Walau diremehkan, walau dibully. Walau endingnya ga sesuai yang diharapkan, ga jadi pegawai tetap. Tapi, doi tetap optimis dan emang harus optimis karena live should go on. Ga berlama-lama baper gtu. 

Produktivitas orang korea juga terlihat dari betapa banyaknya mereka mengeluarkan drakor. Asa baru selesai ngeliat si ini di drama ini. Eh, udah main drama baru lagi. 

3. Fakta Kapitalisme di Negara Maju

Korea, sebagai salah satu negara yang lebih maju dari Endonesia Raya. Ia juga negara yang menerapkan kapitalisme sebagai sistem kehidupannya. Semuanya tampak jelas berorientasi materi. Materi dalam artian bukan hanya uang. Tapi, memang berpusat pada uang. 

Standar sukses itu dekat duit. Berapa banyak drakor yang female lead atau male leadnya horang kayah. CEO muda kaya Raya, berwajah tampan dan cantik. Atau sekolah di sekolah ternama. Pakaian Bagus, kendaraan Bagus, rumah mewwaah. 

Dari drama yang bertema politik, saya jadi tahu dan membandingkan fenomena di negeri sendiri. Betapa erat hubungan pengusaha dan penguasa itu. Betapa penguasa bisa dikendalikan oleh kucuran dana dari para pengusaha. Sama geuning dengan Indonesia. Sama sama mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan para kapital. 

Sebagaimana di drakor Prime Minister and I, saat Prime minister awalnya ingin mengubah kondisi negaranya menjadi lebih baik, memberantas kejahatan, menegakkan keadilan. Tapi, ternyata akhirnya ia sadar, ada kekuatan yang lebih besar yang bahkan seorang Prime minister pun tak bisa menandingi. 

4. Belajar yang lain-lain 

Setelah nonton Oh My Baby jadi bersyukur Allah berikan anak-anak. Setelah nonton Hi Bye Mama jadi bersyukur bisa membersamai anak-anak. Menikmati dan menghargai setiap waktu yang dilalui bersama keluarga. 

Setelah nonton Go Back Couple jadi lebih menghargai pasangan. Belajar mengkomunikasikan segala sesuatunya. Dan drama ini booming juga di teman-teman aktivis rohis. Sampai ada yang nonton sambil masak. Hp nya dibawa ke dapur. Ada juga yang ijin nonton Go Back Couple sama suaminya tuk belajar kehidupan rumah tangga. Suaminya jawab, "Belajar kehidupan rumah tangga tu baca kitab siroh bukan nonton drakor. "
Jleb! Suaminya ustadz, cuuuy.. 😆

Bagai dua sisi mata uang, jadi drakorian atau suka nonton drakor punya efek positif dan negatif. Ambil yang positifnya, buang jauh-jauh negatifnya. 

Yuk, baca juga efek nonton drakor buat teman gengs saya. 

 Ima
Mbak Rijo




Selasa, 16 Juni 2020

Nay to Watch



Salam. Annyeong chingudeul. Walau saya termasuk yang suka nonton drakor atau filmnya. Ada beberapa jenis drama yang tak mau saya tonton. 

Kenapa? Saya memilih menonton sebagai salah satu me time. Seenggaknya waktu yang saya habiskan untuk menonton ini harus benar-benar bisa saya nikmati. Kalau bisa, mencharge semangat saya menjalani hari dan menghadapi kenyataan, eeaa.

Apa aja drama yang saya hindari? 


1. Drama beradegan dewasa

Sebagai pecinta drama romance comedy, saya suka cerita yang manis, yang uwwu kata anak jaman sekarang mah. Tapi, saya ga suka banget drama atau film yang 'berani'. Dalam artian, berani buka-bukaan, berani skinship berlebihan. Misalnya, drama yang trending kemarin, The World of The Married. Banyak sekali adegan dewasanya. 

Kenapa ga suka padahal kan saya juga sudah dewasa, sudah menikah pulak? Karena prinsip. Walau saya dan keluarga suka menonton, saya diajarkan tuk selektif dalam menonton. Termasuk mencoret drama atau film yang ada adegan dewasanya. Dan itu terbawa sampai sekarang. Disamping, ada prinsip agama juga yaa. Tak mau saya melanggar aturan agama hanya karena me time. Aturan apa? Menonton adegan private orang, melihat aurat orang. Nay nay nay. 

2. Drama tentang Serong

You are what you watch. Walau ga terlalu setuju dengan kalimat itu, saya setuju kalau tontonan akan sedikit banyaknya mempengaruhi penontonnya. Masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Apalagi di dalam tontonan dicitra baikkan para pelaku kemaksiatan itu. Seolah benar, dan boleh maksiat yang mereka lakukan dengan alasan yang dideskripsikan dalam tayangan. Saya khawatir paham itu perlahan akan masuk dalam diri saya. Atau membuat jadi negatif thinking atau over thinking pada pasangan. Jadi, nay nay to drama perselingkuhan. 

3. Drama yang "Too Dark"

(Pinterest) 

Thriller, crime termasuk genre yang saya juga suka. Saya mengikuti 'My Mister' nya IU, saya juga mengikuti 'Mother' nya Lee Bo Young. Tapi, ga suka kalau sudah "too dark". Sama dengan alasan kenapa saya menghindari drama tentang perselingkuhan. Saya khawatir menonton drama atau film yang 'too dark' akan membangkitkan naluri buruk dalam diri saya. Atau saya menjadi seperti villain di drama. Hiiiy. Na'udzubillah min dzalik. Misalnya drama Strangers from Hell, film Sunk into Womb. Edisi sadar diri termasuk yang mudah dipengaruhi. 

4. Drama Hantu Seram

Walau sering menanamkan pada anak-anak kalau "Hantu itu ga ada", "Hantu itu bohongan". Tapi, honestly, saya termasuk orang yang borangan. Hohoho. Jadi, dari pada nonton terus bikin takut sendiri atau jadi parnoan. Atau malah ngundang jin mendekat. Lebih baik say dadah babay. Apalagi masih suka begadang sendirian. 

Tapi, lain cerita kalau drama atau filmnya memang punya riview yang Bagus banget. Atau hantunya garelis karasep, ga bikin takut. Kalau begini, lain cerita, sepertinya bisa saya tonton. Seperti drama 'Oh My Ghost' nya Park Bo Young dan Jo Jung Suk, atau 'Master Sun' nya So Ji Sub dan Gong Hyo Jin. Dua drama bertemakan hantu itu masih bisa saya tonton, walau saya skip skip dibagian hantu yang seram. Anggeur ya borangan. Daaan, nontonnya pun bareng-bareng, untuk mengurangi rasa takut tentunya. 

5. Drama bertema L9BT

Lesbian, Gay, Bisex, dan Transgender juga termasuk drama yang saya jauhi. Sependek pemaham saya yang miskin ilmu ini, L9BT dilarang oleh agama. Ia pun menular baik secara fisik kebiasaannya atau pun pemikirannya. Saya tak mau pemikiran, pemahaman bahkan perasaan saya cenderung pro pada aktivis dan aktivitas ini. Jadi, akan sama sekali saya lewat. Skip skip skip. Tonton yang lain sajaah. Masih banyak tontonan yang lain. 

Itulah 5 kategori yang saya hindari. Menonton boleh-boleh saja, tapi jangan lupa juga apa yang kita tonton akan dimintai pertanggungjawaban oleh Nya di hari akhir nanti. Be wise. 😊

Salam. 

Baca juga cerita drama yang ga akan ditonton teman-teman segeng gong saya di whatsapp grup Drakor dan Literasi. 

1. Manda

2. Ima

3. Kak Rijo


5.  Teh Deya


7. Mbak Asri



9. Dwi

10. DK