Tampilkan postingan dengan label Pra Bunda Sayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pra Bunda Sayang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2020

Menemukan Core Value dan Karakter Moral di Wahana Wakeboarding

 

(Pinterest) 

Bismillahirrahmanirrahim 


Alhamdulillah kini masuk ke wahana ketiga di kelas pra bunda Sayang. Kali ini kami diperkenalkan dengan core value dan karakter moral Institut Ibu Profesional. 


Belajar - Berkembang - Berkarya - Berbagi - Berdampak


Saya tidak akan bisa berdampak, tak akan bisa berkarya, bahkan tak akan bisa berbagi tanpa ada yang saya pelajari. Tanpa ada yang saya kuasai. Dan penguasaan itu tentu perlu ilmu, dan ilmu itu harus dipelajari dan dilatih, tak cukup dibaca saja. 


Maka, rute saya dalam mengaplikasikan core value ini:

1. Persiapan (komitmen diri dan mengantongi ijin suami juga anak-anak )

2. Menyelami diri tentang kebutuhan akan ilmu

3. Belajar dengan serius terhadap ilmu yang dipilih

4. Berkembang berdasarkan ilmu yang sudah dipelajari

5. Berkarya, mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat

6. Berbagi tentang ilmu yang sudah dikuasai

7. Berdampak sesuai keilmuan yang dikuasai


Selain core value, perjalanan saya akan ditemani oleh karakter moral yang ada di IIP. 

Running the mission alive

Sharing is caring

Don't teach me, i love to learn

Always on time

I know, i can be better


Perjalanan saya menuju lebih baik harus saya jalani sepanjang hayat. Dalam perjalanan pun tak boleh lupa berbagi sebagai bentuk kepedulian. Dan ketika menemukan suatu yang bisa dipelajari coba untuk memperbesar curiosity, inisiatif sehingga muncul karakter tak selalu ingin diajari karena saya senang belajar. Sebagaimana fitrah yang tertanam pada anak-anak. 


Sebagai adab dalam belajar, tepat waktu tak boleh disepelekan. Terakhir, selalu percaya pada diri kalau kita, saya, semuanya akan bisa berubah menjadi lebih baik. PERCAYA! 


Dari sini saya mengklasifikasikan ilmu apa yang akan saya tingkatkan, latih dan bagikan. 

Tingkatkan:

1. Ilmu parenting

2. Manajemen emosi

3. Homeschooling 

4. Bebenah 


Dilatih:

1. Menulis

2. Aqidah untuk anak-anak & orangtua


Dibagi:

1. Desain sederhana dengan canva

2. Membuat tulisan artikel/opini/surat pembaca


Tentu dalam proses perjalanannya akan ada tantangan yang dihadapi. Tantangan yang terpikirkan akan saya hadapi diantaranya moody, teralihkan aktivitas lain, menunda pekerjaan. Untuk mengatasinya, saya harus menanamkan strong why dalam diri, menempelkan list to do harian di tempat yang terlihat agar tidak lupa, dan membuat prioritas. 


Sebagaimana orang bermain wake boarding, belajar apapun butuh keinginan yang kuat, tak mudah putus asa walau terjatuh berkali-kali. Terus mencoba dan mencoba. Mencoba mempertahankan keseimbangan. Mencoba mempertahankan mindset positif dalam diri. Percaya akan diri sendiri, bahwa AKU PASTI BISA! 


Sampai jumpa di wahana selanjutnya. 



Minggu, 09 Agustus 2020

Bermain di Wahana Surfing Pra Bunda Sayang

 

(Sumber gambar: Pinterest) 

Bismillah


Masih dalam program pra bund sayang, kini kami diajak mengikuti wahana surfing. Merasakan bermain dengan ombak dan gelombang air laut yang pasang surut. Menemukan cara bagaimana tetap bisa bertahan ditengah hempasan ombak. 


Kalau dalam bermain surfing kita butuh papan selancar, butuh juga pertahanan keseimbangan. Maka, dalam berkomunitas pun kita perlu persiapan agar bisa tetap fokus dalam tujuan yang sama. 


Setelah sebelumnya menyamakan tujuan, membersihkan niat dalam berkomunitas. Selama perjalanan agar tetap fokus pada tujuan, tidak terdistrack oleh yang lain, perlu ada aturan bagi semua. Dalam ibu profesional, seperangkat aturan ini disebut Code of Conduct. 


Prinsip berkomunitas yang masih terngiang oleh saya adalah semua boleh kecuali yang tidak boleh. Pernyataan ini membentuk pemahaman masih banyak yang boleh ketimbang yang tidak boleh. Jangan justru bermain di daerah yang sedikit itu, yang tidak boleh. Karena dalam komunitas Ibu profesional yang tidak boleh hanya ada 5 poin. 

1. Tidak mengkritik pemerintah

2. Tidak melakukan ghibah dan fitnah

3. Tidak SARAT (suku, ras, agama, adat, dan bentuk tubuh) 

4. Tidak khilafiyah 

5. Tidak memiliki konflik kepentingan 


Ketika menerima CoC saat matrikulasi saya berusaha memperjelas per poinnya. Mempertanyakan kenapa begini dan begitu. Tapi, saya sadari komunitas ibu profesional itu komunitas yang umum. Orang yang bergabung di dalamnya sangat sangat beragam. Keberagaman ini disatukan oleh tujuan yang sama, menjadi ibu yang profesional menurut versinya masing-masing. Maka, untuk bisa fokus pada tujuan, betullah perlu aturan. 


Code of conduct hadir menjadi pedoman perilaku bermartabat, menata perilaku, juga sebagai referensi perilaku. 


Selain itu, karena saya memilih untuk berkomunitas, berarti saya menjadi bagian dari komunitas ini. Saya punya peran terhadap komunitas, seperti menjaga nama baik komunitas, berperan aktif dalam kegiatan. Lalu, karena saya pun menjadi mahasiswi Ibu Profesional, saya mempunyai peran untuk hadir tepat waktu dalam perkuliahan dan kegiatan, jika dirasa tidak memungkinkan hadir tepat waktu, maka setidaknya saya harus memberikan konfirmasi. 


Sebagaimana dalam majelis ilmu, agar ilmu berkah maka saya harus mendahulukan adab dalam mencari ilmu. Salah satunya 'mengosongkan gelas', menghilangkan rasa sok tahu dalam diri. 


Tugas yang hadir selama perkuliahan pun sejatinya harus dikerjakan dengan setulus hati dan diaplikasikan dalam keseharian. Karena teori saja tak cukup, perlu aplikasi. Karena ilmu itu untuk diamalkan bukan dikoleksi dalam benak. 


Dalam mengerjakan tugas atau nice home work, saya tidak boleh plagiat. Saya pun harus berani menegur member yang lain dengan cara yang baik jika ada yang melanggar CoC. 


Sebagaimana bermain surfing butuh ilmu, butuh aturan keselamatan. Dalam berkomunitas pun butuh ilmu dan aturan, agar selamat dan tercapainya tujuan. 


Selamat menikmati permainan, sampai jumpa di wahana selanjutnya. 


Jumat, 31 Juli 2020

Nicehomework Wahana Istana Pasir


(Sumber gambar enlightenedescape)


Bismillah


Pra Bunda Sayang


Memulai perjalanan Bunda Sayang, saya diajak mengikuti program pra Bunda sayang terlebih dulu. Disini kami diminta untuk bersikap skeptis, berpikir kritis. Untuk apa? Untuk menyaring informasi yang datang, sebagaimana derasnya informasi yang masuk sekarang ini. Meletakkan standar 3 B, baik, benar dan bermanfaat untuk memilih dan memilah informasi. 


Kami lalu diminta untuk menyelami diri, melakukan perenungan untuk menemukan arti ibu profesional bagi diri sendiri. Karena setiap ibu berbeda, punya potensi yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan akan berbeda pula jenis profesional yang akan dihasilkan oleh setiap ibu. 


Strong Why


Menimbang pernyataan, "Mendidik tidak bisa mendadak". Saya bulatkan tekad untuk mengambil kesempatan mengikuti kelas Bunda Sayang yang lamanya berbulan-bulan, 15 bulan tepatnya. Dengan mengantongi ijin suami dan anak-anak juga tentunya. Dengan waktu belajar yang panjang, tentu perlu bekal agar tak tertinggal di tengah jalan. Karena seleksi alam itu pasti ada, semoga bukan saya atau kita salah satunya. Atau kalau bisa semoga semuanya bisa lulus mengikuti program sampai garis finish. Aamiin. 


Saya, kita, memiliki banyak peran, menjadi istri dan ibu, sekaligus anak bagi orangtua, juga hamba dari sang Pencipta. Peran yang berbarengan dengan kewajiban. Tentu akan stress jika menjalaninya tanpa rasa bahagia dan senang. Menemukan tombol yang menjadi bekal agar kita menjalani semua peran dengan bahagia itu tentu perlu ilmu. Dan ini menjadi salah satu alasan saya untuk ikut dalam kelas Bunda Sayang. Selain dalam rangka mencari lingkungan positif yang akan menyebarkan positif vibes untuk saya. 


Sand Castle dan makna Ibu Profesional


Pra bunda sayang mengibaratkan program Bunda Sayang sebagai wahana Istana Pasir. Untuk saya bisa membangun istana pasir, butuh pasir, air, peralatan membangun istana pasir. Setelah sebelumnya tentu saja merancang istana pasir itu sendiri. Istana pasir yang akan saya buat adalah analogi dari tujuan saya, menjadi ibu profesional.


Apa makna ibu profesional untuk saya? Bagi saya, ibu profesional adalah ibu yang MENIKMATI (enjoy), BAHAGIA (happy), BERSYUKUR (grateful) dalam menjalankan perannya di muka bumi sebagai seorang istri, ibu, juga hamba Allah. Hingga bisa bersegera mencari celah amal sholeh dalam setiap perannya dan melakukannya dengan optimal dan bermanfaat bagi yang lain. Sesuai dengan potensi yang Allah amanahkan. Inilah istana pasir saya yang insyaallah akan saya bangun selama 15 bulan ke depan dan seterusnya. 


Bahan dan peralatan yang saya butuhkan selama membuat istana pasir adalah analogi dari bekal mencari dan menerapkan ilmu, yakni kesungguhan, ketabahan, Ridho suami dan anak-anak, adab dalam mencari ilmu, fokus, segera menerapkan ilmu yang didapat dan istiqomah. 


Perjalanan Bunda Sayang


Perjalanan program bunda sayang versi saya



1. Start (luruskan niat, isi perbekalan, kantungi ijin dan Ridho suami juga anak-anak, buat kembali ceklis tujuan) 

2. Belajar

3. Bertumbuh dan berkembang dengan mengaplikasikan ilmu yang didapat

4. Evaluasi (oleh diri dan suami) 


Gambaran Ibu Profesional dalam Keluarga Menurut Saya


Seperti penulis. Ia yang menuliskan jalan cerita. Ia yang bisa mewarnai kisah ceritanya. Bisa diwarnai dengan gelak tawa, tangis air mata, atau fenomena haru lainnya yang bisa membawa emosi pembacanya. Kalau sang penulis berhenti di tengah jalan, ceritanya tak akan selesai. Ia harus berjuang untuk menyelesaikan tulisannya agar bisa berpengaruh bagi oranglain, tentunya bagi dirinya sendiri. 


Terima kasih. Semangat berjuang para wanita hebat. Semangat belajar menjadi mahasiswi Bunda Sayang batch 6. Semoga kita semua sampai di garis finish bersama.