Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2020

Adegan Klise yang Tetap Ada di Hati



(Sumber gambar: idntimes)


Assalamu'alaikum... Annyeong chingudeul. Tak terasa sudah masuk ke akhir bulan Juli, bersiap menyambut awal Agustus. Tak terasa juga sudah masuk topik 19 dalam topik menulis kokoriyaan. Sepertinya bahasannya akan mirip dengan tulisan saya sebelumnya.


Topik kali ini tentang klise. Berdasarkan laman wikipedia, klise adalah ide atau gagasan yang terlalu sering digunakan sehingga makna aslinya memudar, bahkan bisa jadi menyebalkan. Apakah ada scene klise dalam drakor? Oh, ya, ada. 


Karena perbedaan ketertarikan orang, scene klise ini walau pun klise, walaupun sudah sering bahkan sangat sering dipakai, tetap ada peminatnya.


Sebagai penyuka drama korea bergenre romance komedi, beberapa scene klise yang masih terngiang dalam benak saya ada beberapa:


1. Benci jadi cinta




Jalan cerita dari benci jadi cinta sudah sangat sering dipakai. Boys before flowers, full house, what's wrong with secretary Kim, Princess hours, itu hanya sedikit contoh judul drama yang bermula dari benci jadi cinta. 


Jalan cerita ini banyak dipilih mungkin karena ada perubahan emosi yang dialami para tokoh utama. Yang tadinya tak suka bertemu dengannya, selalu bermasalah dengannya, terbiasa dengannya, sampai akhirnya merasa kehilangan kala tak jumpa dirinya. 


2. Perebutan tokoh utama oleh beberapa orang 


Namanya drama, jalan cerita akan dibuat sedemikian hingga agar bisa mengocok perasaan penontonnya. Termasuk melalui perebutan tokoh utama. Seringnya sang female lead direbutkan oleh dua orang lelaki, bahkan bisa jadi lebih. Seperti drama yang sedang saya ikuti "Was it Love", sang female lead direbutkan oleh empat orang lelaki. Drama lainnya ada Backstreet Rookie (Saet Byul yang direbutkan oleh pak Choi dan Ji Wook), Men are Men, Psycho but it's Ok, Dinner Mate, Hospital playlist, dan lainnya. 


Jalan cerita ini digandrungi para penonton apalagi perempuan, karena merasa berharga, diperjuangkan, loveable juga sepertinya. Hehe. 


3. Adegan saling pandang yang bikin salah tingkah


Ada berbagai tipe adegan saling pandang yang bikin rasa bergelora di dada. Saling pandang setelah salah satu tokoh utama ditarik tangannya karena hampir tertabrak. Kalau yang ini, biasanya plus pelukan juga. 


Kedua, adegan saling pandang saat bangun tidur berhadapan. Entah ceritanya mereka tidur sekamar tapi beda bantal dan kasur. Entah ceritanya mereka tidur satu kasur beda bantal. Atau tidur di meja dan terbangun dengan saling memandang. Ada yang pas bangun langsung salah tingkah, biasanya kalau begini sih ikatannya belum sah gtu. Tapi, ada juga yang pas bangun dan saling pandang langsung senyum-senyum, peluk-peluk, elus rambut. Nah kalau ada adegan ini biasanya udah sah hubungannya. 


Ketiga, adegan saling pandang saat menarik tangan atau tas. Adegan ini saya ingat sekali di drama extraordinary you. Saat Dan Oh fokus dengan jamnya, tiba-tiba Haroo menarik tasnya, dan mereka pun saling pandang. Bip bip bip bip bip. Yak, pandangan ini sukses membuat heart rate Dan Oh menaik. Tak hanya Dan Oh, penonton pun ikut deg degan dibuatnya. 


4. Adegan make over


Cantik atau ganteng, mau diakui atau tidak, jadi salah satu standar sukses jaman now. Daaan perempuan mana yang tak mau terlihat cantik? Semua perempuan pasti ingin terlihat cantik. Nah, dalam drama, adegan make over sering muncul. Biasanya awalnya, salah satu pemainnya berkarakter sederhana, bersahaja, dan biasa saja, atau bahkan terkategori cupu dan kampungan. Di make over lah si dia dari bebek menjadi angsa yang jelita. Yang membuat lawan mainnya terpesona sampai menganga atau tak kicep mata. Hehe. 


5. Adegan nonton bareng 


Masa PDKT atau bahkan masa sah nya ikatan hubungan duo sejoli dalam drama biasanya suka dihiasi adegan nonton bioskop bareng. Ada yang romantis saat menonton. Tiba-tiba tangannya bersentuhan saat makan pop corn bareng. Atau malah tertidur di pundak si dia. Atau atau salah satu dari mereka ada yang justru fokus sama pasangannya, terpesona gtu. Kayak Yeon Woo sama Ae Jong di Was It Love. 


Tapi, ada lho yang justru jadi kocak. Seperti adegan nonton bioskopnya Eun Tak dan Pak Goblin. Pak Goblin malah heboh sendiri karena ketakutan sama zombi. Padahal doi yang main di film zombie itu. Wkwkwkwk. 


Apalagi ya? Banyaklah adegan klise dalam drama, akan panjang sekali kalau saya bahas semua disini. Lebih enak tonton sendiri. 


Tapi, kalau bahas mana yang saya suka? 


(Adegan epik pak Goblin lagi nonton film sendiri)
Sumber gambar: idntimes


Semuanya saya suka sih, asal endingnya ada yang bikin ketawa gtu. Ya kayak adegan nonton bioskopnya Eun Tak dan Kim Shin itu. Kan bodor. Jadi ga giung gtu. Klau sweet sweet terus kan giung. Hehe


Nah, sekian cerita adegan klise drakor ala saya. Yuk simak cerita tentang adegan klise drakor ala teman-teman saya. 






Rabu, 01 Juli 2020

Fungsi Adik untuk Kakak


(Detik) 

"Aku melahirkanmu agar kau merawat dan melindungi kakakmu" katanya sambil memeluk lelaki kecil itu. 

Cuplikan dialog drama korea terbaru ini cukup mengganggu pikiran saya. It's okay to not be okay sukses mencuri perhatian drakorian. Setelah kemarin-kemarin per drakoran banyak dengan tema serong alias selingkuh, kini ramai tema tentang mental illness, beraroma psikologi, salah satunya drama It's okay to not be okay atau psycho but it's okay. 

Male lead drama ini diperankan oleh Kim Soo Hyun, menjadi Gang Tae, yang GanTeng  πŸ˜…. Dari kecil ia harus merawat kakaknya yang keterbelakangan mental karena ibunya meninggal. 

Sang ibu pun saat mabuk menyatakan pada Gang Tae kalau ia melahirkannya untuk merawat dan melindungi kakaknya, Sang Tae yang keterbelakangan mental. Sebelumnya pun, sang ibu memukul Gang Tae karena kakaknya dipukuli oleh orang, padahal ibunya memasukkan Gang Tae ke tempat les bela diri agar bisa melindungi Sang Tae. Belum lagi scene saat hujan turun juga saat tidur, fokus ibunya hanya untuk Sang Tae. Sehingga Gang Tae pun memancarkan aura sedih pada wajahnya. 

Kenapa episode 4 ini sangat mengganggu pikiran saya? Saya ingat film Barat yang bercerita tentang kakak yang terkena leukimia akut, dan oleh dokter, sang adik disarankan menjadi penyelamat kakaknya. Dengan mendonorkan darah, organ, juga jaringan tubuhnya agar kakaknya tetap hidup. My sister keeper, judulnya. 

(Pinterest) 


Saat sang kakak mengalami gagal ginjal, Anna, sang adik yang baru berusia 11 tahun dipaksa orangtuanya untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk sang kakak. Anna yang bercita-cita sebagai cheerleader diperlihatkan tak ingin mendonorkan ginjalnya. Karena dengan mendonorkan ginjalnya, kemungkinan besar ia akan menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Bermain bola, menjadi anggota cheerleader, bahkan menjadi seorang ibu. 

Gang Tae dan Anna sama-sama dilahirkan untuk menjaga keberlangsungan hidup sang kakak yang spesial. 

Jadi, apakah setiap anak itu dilahirkan untuk tujuan tertentu? Ya. 

Apakah adik dilahirkan untuk menjadi penjaga kakaknya? Ya, tapi tidak selalu. Bagi saya, keluarga itu sanctuary. Tempat yang memberi rasa aman, nyaman,  terlindungi, walau sedang diterpa berbagai masalah kehidupan. Bisa jadi untuk kasus Gang Tae dan Anna, merekalah yang menjaga sang kakak. Tapi, di keluarga lain, ada kakak yang harus menjaga adiknya. Ada banyak orangtua yang menjaga anak-anaknya. Karena fungsi keluarga itu saling menjaga. 

Saya yakin Allah ciptakan sesuatu tak ada yang sia-sia. Pasti ada maksud di dalamnya. Termasuk juga takdir bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih ingin lahir dari rahim siapa. Kita tak bisa memilih akan bersaudara dengan siapa. Kita tak bisa memilih jadi adik atau kakak. Inilah takdir. Ketetapan Allah. Dan saya yakin, ketetapannya PASTI BAIK. Boleh jadi menurut kaca mata manusia yang dhoif ini terlihat tidak adil, terlihat tidak manusiawi. Tapi, Allah Yang Maha Mengetahui yang nampak dan tersembunyi. Ia yang mengetahui hikmah dibalik peristiwa. 

Tuk bahasan hukum donor, lain kali saya tuliskan. Insyaallah. 

Lagi pula, Allah sudah nyatakan, "Tidaklah aku membebani manusia diluar kemampuannya". Allah yang menakdirkan keadaan, lebih tahu kesanggupan diri kita untuk melaluinya. Kita hanya diminta untuk bersabar menjalaninya. Semoga menjadi jalan pahala untuk meniti surga Nya. 

Wallahu'alam bish shawab. 

Jumat, 19 Juni 2020

Efek Jadi Drakorian



Nonton drakor apa faedahnya? Wasting time, iih. 

Weits, ada dong faedah nonton drakor. Dan ga semua jenis drakor ditonton. Tetap selektif, seperti tulisan saya yang lalu. 

Baca juga Nay to Watch

Emang ada faedahnya? Buat saya ada. Buat teman-teman drakorian juga ada. Nanti kita bahas di tulisan tema selanjutnya ya. 

Apa aja faedahnya? Faedah nonton drakor versi saya:
(Pinterest) 


1. Belajar Bahasa Korea

Annyoeng haseyo chingudeul. Sebagai pribadi yang senang bahasa. Saya suka belajar bahasa korea tapi sayangnya pusiang pala saya kalau liat hangul tuh. Beda kalau bahasa inggris kan hurufnya sama kaya bahasa Indonesia. Nah, oleh karena itu, saya mengandalkan pendengaran tuk belajar bahasa korea.  Yah, ga jago-jago amat sih. Tapi, familiarlah sama annyeong, jalga, oppa, omma, aboniem, sarang, adeul, aniya, daaan masih banyak lagi. Tar kita jabarkan satu-satu di tulisan tema selanjutnya ya. 

2. Belajar Budaya Korea

Dari nonton drakor, saya belajar budaya korea. Budaya korea yang jaman kerajaan dengan baju hanboknya yang cantik. Jadi tau warna-warni baju tradisionalnya. 

Jadi tau kebiasaan masyarakat negeri ginseng sana yang dekat dengan minuman keras. Orientasi mahasiswa, minum. Penyambutan pekerja baru, minum. Perpisahan, minum. Hayo we ngaleeut miras. Auto nyanyi Bang Roma, "Minuman Keras! Miras! Apapun namanyaaa... "

Jangan ditiru ini mah. Ga boleh ditiru! Jauhi! 

Yang ditiru apanya dong? Betapa mereka itu produktif, aktif. Punya plan jauh ke depan. Bersungguh-sungguh untuk menjalankan targetnya. Contohnya dari drakor Misaeng, saya belajar tuk terus berusaha keras. Belajar dan terus belajar, beradaptasi terus. Walau diremehkan, walau dibully. Walau endingnya ga sesuai yang diharapkan, ga jadi pegawai tetap. Tapi, doi tetap optimis dan emang harus optimis karena live should go on. Ga berlama-lama baper gtu. 

Produktivitas orang korea juga terlihat dari betapa banyaknya mereka mengeluarkan drakor. Asa baru selesai ngeliat si ini di drama ini. Eh, udah main drama baru lagi. 

3. Fakta Kapitalisme di Negara Maju

Korea, sebagai salah satu negara yang lebih maju dari Endonesia Raya. Ia juga negara yang menerapkan kapitalisme sebagai sistem kehidupannya. Semuanya tampak jelas berorientasi materi. Materi dalam artian bukan hanya uang. Tapi, memang berpusat pada uang. 

Standar sukses itu dekat duit. Berapa banyak drakor yang female lead atau male leadnya horang kayah. CEO muda kaya Raya, berwajah tampan dan cantik. Atau sekolah di sekolah ternama. Pakaian Bagus, kendaraan Bagus, rumah mewwaah. 

Dari drama yang bertema politik, saya jadi tahu dan membandingkan fenomena di negeri sendiri. Betapa erat hubungan pengusaha dan penguasa itu. Betapa penguasa bisa dikendalikan oleh kucuran dana dari para pengusaha. Sama geuning dengan Indonesia. Sama sama mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan para kapital. 

Sebagaimana di drakor Prime Minister and I, saat Prime minister awalnya ingin mengubah kondisi negaranya menjadi lebih baik, memberantas kejahatan, menegakkan keadilan. Tapi, ternyata akhirnya ia sadar, ada kekuatan yang lebih besar yang bahkan seorang Prime minister pun tak bisa menandingi. 

4. Belajar yang lain-lain 

Setelah nonton Oh My Baby jadi bersyukur Allah berikan anak-anak. Setelah nonton Hi Bye Mama jadi bersyukur bisa membersamai anak-anak. Menikmati dan menghargai setiap waktu yang dilalui bersama keluarga. 

Setelah nonton Go Back Couple jadi lebih menghargai pasangan. Belajar mengkomunikasikan segala sesuatunya. Dan drama ini booming juga di teman-teman aktivis rohis. Sampai ada yang nonton sambil masak. Hp nya dibawa ke dapur. Ada juga yang ijin nonton Go Back Couple sama suaminya tuk belajar kehidupan rumah tangga. Suaminya jawab, "Belajar kehidupan rumah tangga tu baca kitab siroh bukan nonton drakor. "
Jleb! Suaminya ustadz, cuuuy.. πŸ˜†

Bagai dua sisi mata uang, jadi drakorian atau suka nonton drakor punya efek positif dan negatif. Ambil yang positifnya, buang jauh-jauh negatifnya. 

Yuk, baca juga efek nonton drakor buat teman gengs saya. 

 Ima
Mbak Rijo




Selasa, 16 Juni 2020

Nay to Watch



Salam. Annyeong chingudeul. Walau saya termasuk yang suka nonton drakor atau filmnya. Ada beberapa jenis drama yang tak mau saya tonton. 

Kenapa? Saya memilih menonton sebagai salah satu me time. Seenggaknya waktu yang saya habiskan untuk menonton ini harus benar-benar bisa saya nikmati. Kalau bisa, mencharge semangat saya menjalani hari dan menghadapi kenyataan, eeaa.

Apa aja drama yang saya hindari? 


1. Drama beradegan dewasa

Sebagai pecinta drama romance comedy, saya suka cerita yang manis, yang uwwu kata anak jaman sekarang mah. Tapi, saya ga suka banget drama atau film yang 'berani'. Dalam artian, berani buka-bukaan, berani skinship berlebihan. Misalnya, drama yang trending kemarin, The World of The Married. Banyak sekali adegan dewasanya. 

Kenapa ga suka padahal kan saya juga sudah dewasa, sudah menikah pulak? Karena prinsip. Walau saya dan keluarga suka menonton, saya diajarkan tuk selektif dalam menonton. Termasuk mencoret drama atau film yang ada adegan dewasanya. Dan itu terbawa sampai sekarang. Disamping, ada prinsip agama juga yaa. Tak mau saya melanggar aturan agama hanya karena me time. Aturan apa? Menonton adegan private orang, melihat aurat orang. Nay nay nay. 

2. Drama tentang Serong

You are what you watch. Walau ga terlalu setuju dengan kalimat itu, saya setuju kalau tontonan akan sedikit banyaknya mempengaruhi penontonnya. Masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Apalagi di dalam tontonan dicitra baikkan para pelaku kemaksiatan itu. Seolah benar, dan boleh maksiat yang mereka lakukan dengan alasan yang dideskripsikan dalam tayangan. Saya khawatir paham itu perlahan akan masuk dalam diri saya. Atau membuat jadi negatif thinking atau over thinking pada pasangan. Jadi, nay nay to drama perselingkuhan. 

3. Drama yang "Too Dark"

(Pinterest) 

Thriller, crime termasuk genre yang saya juga suka. Saya mengikuti 'My Mister' nya IU, saya juga mengikuti 'Mother' nya Lee Bo Young. Tapi, ga suka kalau sudah "too dark". Sama dengan alasan kenapa saya menghindari drama tentang perselingkuhan. Saya khawatir menonton drama atau film yang 'too dark' akan membangkitkan naluri buruk dalam diri saya. Atau saya menjadi seperti villain di drama. Hiiiy. Na'udzubillah min dzalik. Misalnya drama Strangers from Hell, film Sunk into Womb. Edisi sadar diri termasuk yang mudah dipengaruhi. 

4. Drama Hantu Seram

Walau sering menanamkan pada anak-anak kalau "Hantu itu ga ada", "Hantu itu bohongan". Tapi, honestly, saya termasuk orang yang borangan. Hohoho. Jadi, dari pada nonton terus bikin takut sendiri atau jadi parnoan. Atau malah ngundang jin mendekat. Lebih baik say dadah babay. Apalagi masih suka begadang sendirian. 

Tapi, lain cerita kalau drama atau filmnya memang punya riview yang Bagus banget. Atau hantunya garelis karasep, ga bikin takut. Kalau begini, lain cerita, sepertinya bisa saya tonton. Seperti drama 'Oh My Ghost' nya Park Bo Young dan Jo Jung Suk, atau 'Master Sun' nya So Ji Sub dan Gong Hyo Jin. Dua drama bertemakan hantu itu masih bisa saya tonton, walau saya skip skip dibagian hantu yang seram. Anggeur ya borangan. Daaan, nontonnya pun bareng-bareng, untuk mengurangi rasa takut tentunya. 

5. Drama bertema L9BT

Lesbian, Gay, Bisex, dan Transgender juga termasuk drama yang saya jauhi. Sependek pemaham saya yang miskin ilmu ini, L9BT dilarang oleh agama. Ia pun menular baik secara fisik kebiasaannya atau pun pemikirannya. Saya tak mau pemikiran, pemahaman bahkan perasaan saya cenderung pro pada aktivis dan aktivitas ini. Jadi, akan sama sekali saya lewat. Skip skip skip. Tonton yang lain sajaah. Masih banyak tontonan yang lain. 

Itulah 5 kategori yang saya hindari. Menonton boleh-boleh saja, tapi jangan lupa juga apa yang kita tonton akan dimintai pertanggungjawaban oleh Nya di hari akhir nanti. Be wise. 😊

Salam. 

Baca juga cerita drama yang ga akan ditonton teman-teman segeng gong saya di whatsapp grup Drakor dan Literasi. 

1. Manda

2. Ima

3. Kak Rijo


5.  Teh Deya


7. Mbak Asri



9. Dwi

10. DK



Kamis, 21 Mei 2020

Extraordinary You


Hidup itu ibarat film. Ada tokoh utama, ada pemeran pembantu, ada pemeran ekstra, ada juga figuran yang lalu lalang. Boleh jadi kita adalah pemain pembantu, pemain ekstra, atau bahkan figuran dalam kehidupan orang. Tapi, kita adalah tokoh utama dalam kehidupan kita sendiri. 


Walau ada kemiripan, tapi ada perbedaan yang nyata. Kalaulah dalam film, naskah skenario ditulis oleh manusia, yang notabenenya makhluk. Serba terbatas, dihiasi khilaf, lupa. Sementara kehidupan kita, skenarionya dari Allah swt. Semua ketetapan yang menimpa kita adalah skenario terbaiknya walau kadang kita tak mampu melihatnya secara seksama. Bukankah Allah sudah katakan dalam firmannya yang diabadikan dalam al quran, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (Tqs. Al baqarah: 216).


Dalam kehidupan kita, ada dua daerah yang menghiasinya. Pertama, daerah yang kita kuasai. Di dalam daerah ini, kita bebas memilih untuk melakukan aktifitas. Kita diberikan modal yang sama oleh Allah, diantaranya waktu dan akal. Apakah waktu yang Allah berikan ini optimal dimanfaatkan, atau malah disia-siakan? Apakah akal yang Allah berikan digunakan untuk memilah dan memilih aktifitas berdasarkan aturan Allah atau memilih sebatas hawa nafsu belaka? Dan semua pilihan yang kita lakukan dalam daerah ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt. Ya, ada hisab menanti. 


Kedua, daerah yang menguasai kita. Dalam daerah ini, tidak ada pilihan bagi kita. Kita diminta untuk bersabar menghadapi ketentuan ini. Contohnya, kalau di jalan kita sudah berhati-hati dalam mengemudi, tapi ternyata ada orang lain yang kurang hati-hati sehingga menyebabkan kecelakaan. Karena tidak ada campur tangan kita dalam daerah ini, maka Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas yang terjadi pada daerah ini. 


Dari sini bisa disimpulkan agar ketika kita dihisab nanti kita selamat dari adzab. Maka kita harus menyesuaikan aktifitas dalam daerah pertama dengan aturan Allah swt. Tentu ini akan terasa berat kala pondasi iman belum kuat. Maka dari itu, yang harus senantiasa kita lakukan adalah mengokohkan pondasi iman. Agar ringan langkah kita menyesuaikan segala tindak tanduk dengan aturan sang Pencipta. 


Ingatlah, kita itu spesial, extraordinary. Kita bisa jadi lebih mulia dari malaikat. Kala kita mengoptimalkan modal yang Allah berikan dalam kehidupan ini untuk beribadah pada Nya, sesuai dengan karakter kita. Lihatlah kisahnya Abu Bakar As Shiddiq, yang sangat perasa. Ia yang menangis kala mengimami sholat. Tapi, tegas kala berhadapan dengan orang yang murtad juga munafik. Sebutlah Umar bin Khattab yang keberaniannya digunakan untuk berani menunjukkan kebenaran, berani mengakui kesalahan. Karena itu ia dijuluki Al Faruq (Sang Pembeda). Jangan lupa dengan Usman bin Affan yang pemalu. Malunya menyelimuti dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa. Sampai Rasulullah pun malu padanya. Ada juga Ali bin Abi Thalib yang cerdas. Yang kecerdasannya dimanfaatkan untuk kepentingan agama Allah dan umat Islam. 


Untuk wanita, ada sosok Aisyah ra, yang cerdas, mudah mengingat. Ingatannya ia gunakan untuk meriwayatkan hadist. Juga sosok para muslimah kaum Anshor yang pemberani. Dalam artian berani meminta jatah pembekalan ilmu agama dari Rasul, juga berani bertanya pada Rasul mengenai permasalahannya. 


Kita, Allah ciptakan spesial, extraordinary, berbeda dari lainnya. Memang tujuan penciptaan kita sama, beribadah pada Allah. Tapi misi spesifiknya berbeda setiap orang, sebagaimana para sahabat dan shahabiyah berperan pada ranahnya, sesuai karakternya. Semuanya disatukan dalam tujuan yang sama, menggapai Ridho Allah saja. 


Jangan jual akhirat kita demi dunia yang fana dan sementara. Mari bersyukur pada-Nya dengan menjadi insan yang taat, yang bermanfaat dengan kespesialan kita. 


Wallahu'alam bish shawab. 


My ID is Muslimah

“Kamu jelek!”
“Kamu gendut!”
(My ID is Gangnam Beauty, Episode 1)

Perlakuan tidak menyenangkan dialami oleh Kang Mirae. Mulai dari ia sekolah dasar hingga sekolah menengah. Bukan karena perilakunya ia di bully, tapi karena penampilannya yang dianggap tidak menarik. Hingga akhirnya, ia bertekad untuk melakukan operasi plastik. Tampil lebih cantik. Agar bisa hidup dengan normal seperti yang lainnya. Tidak dibully. Weebtoon populer di tahun 2018 ini akhirnya diangkat ke layar kaca.

Cerita ini bukan kisah nyata. Tapi terinspirasi oleh berbagai kisah nyata di Korea sana. Negeri ginseng yang kini terkenal juga dengan negeri oplas terbaik di dunia. Bahkan, artis transgender asal Indonesia pun oplas di sana. Sampai ramai netizen bilang “mirip Barbie”.

Cantik itu..

Semua perempuan ingin tampil cantik. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cantik dalam kacamata fisik, ragawi semata. Keinginan ini dieksploitasi. Oleh para pengusaha. Coba perhatikan, semua produk perawatan kecantikan. Komplit dari ujung rambut sampai ujung kaki hadir disekitar kita. Pengusaha yang berkecimpung di bidang kecantikan pun berlomba-lomba. Membangun brand image ‘cantik’ menurut mereka. Tentu yang mendukung dengan produk mereka. 

Pengusaha shampoo bilang cantik itu rambut hitam berkilau. Pengusaha lotion bilang cantik itu kulit kenyal, tak lengket, juga putih berseri. Pengusaha deodorant bilang cantik itu bebas basket dan burket. Jadi, kesimpulannya, definisi cantik itu tergantung dari kacamata pengusaha. Tergantung mereka jualan apa. Termasuk oplas. Mereka yang dapat keuntungan dari oplasnya kaum hawa akan getol mengkampanyekan oplas. Bisa via gambar, tulisan, komik, hingga drama layar kaca. 

Itu kalau cantik dilihat dari kacamata fisik. Tak akan ditemukan kebahagiaan hakiki di sana. Karena penghargaan yang rendah disematkan dalam dirinya. Ia berharga hanya karena parasnya, tubuhnya. Bukan karena apa yang ada pada dirinya, skill, karakter, ilmu, dan lainnya. Walau mengaku bahagia, tapi tak akan bertahan lama. Meski bangga pernah hinggap karena status ‘cantik’ secara fisik, ia pun akan luntur bersamaan dengan bergulirnya waktu. 

Cantik itu bukan prestasi yang harus dibanggakan. Ia anugerah yang diberikan Tuhan. Maka wajib disyukuri. Disyukuri dengan menggunakannya sesuai dengan apa yang Allah sukai. Menjaganya agar tetap dalam koridor syaria’t ilahi. Tak diumbar. Tidak juga diubah sesuai definisi cantik manusia. Rasulullah saw bersabda, "Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta untuk ditatokan, yang mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah." (H.R Muslim)

Muslimah Mulia dari Ujung Rambut sampai Ujung Kaki dalam Islam

Allah yang memberikan paras cantikmu. Allah juga yang menganugerahkan tubuh semampaimu. Allah akan meminta pertanggungjawaban atas tubuh itu. Digunakan untuk apa saja? Allah tak akan mempertanyakan warna kulit, hidung mancung atau tidak, ukuran tubuh dan yang sejenisnya. Karena ia ketetapan dari Allah. Kewajiban kita bersyukur dan ridho terhadap ketetapan ini. 

Allah muliakan kita, kaum hawa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bukan dilihat dari fisik. Jika ada yang mempunyai anak perempuan, Allah janjikan kebaikan di akhirat. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya, serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.” [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adaabul Mufrad dan hadits ini shahih]

Setelah menikah, ia menjadi pelengkap setengah agama suaminya. Allah dan Rasul memerintahkan para suami untuk berlaku baik pada istrinya. “Orang beriman yang paling mulia keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik sikapnya pada istrinya.” (HR. At-Turmudzi)

Saat menjadi ibu, Islam muliakan ibu tiga kali lebih dulu dibandingkan ayah. Seorang sahabat bertanya tentang orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab ; ‘Ibumu’, kemudian siapa? ‘Ibumu’, jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? ‘Ibumu’, kemudian siapa, tanya orang itu lagi, ‘kemudian ayahmu’, jawab beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejarah mencatat betapa mulianya muslimah dalam naungan Islam, tanpa melihat fisik. Ummul Mukminin Aisyah ra menjadi pelajar dan pengajar yang hebat di masanya. Universitas Al-Qarawiyyin di Morroco yang terkenal sebagai Universitas pertama di dunia, didirikan tahun 859 M oleh seorang Muslimah bernama Fathimah Al-Fihri. Bahkan di akhir masa kekhilafahan Islam, pada masa kekhilafahan Utsmaniyyah, saat melakukan penelitian untuk pasukan penerbang negara, muncul nama penerbang perempuan pertama dalam Islam, Belkis Sevket HanΔ±m (1913).

Get Your ID

Sadari identitas kita sebagai makhluk Allah. Sebagai muslimah. Yang mulia dalam Islam tanpa kacamata materi. Jangan sampai latah pada budaya dan pemikiran yang bukan bersumber dari Allah dan Rasul. Sudah saatnya kembali pada identitas kita sebenarnya. Mulia dengan identitas ini. Muslimah sejati. Hamba Ilahi Rabbi.
Wallahua’lam bish shawab 

Matinya Fitrah Ibu

(Sumber gambar: nakita) 

“I though about week later they might be dead. I didn’t feel like I should return home to save them”.

(japantimes.co.jp, 1/8/2010)

(Sumber gambar: Youtube) 

Sanae Shimomura, 23 tahun, tega mengunci kedua anaknya, Sakurako Hagi 3 tahun dan Kaede Hagi 1 tahun, di dalam apartemen. Ia meninggalkan anaknya selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya kedua anak tersebut ditemukan sudah membusuk di dalam apartemen. Namun, sang ibu tidak menyesal atas kematian kedua anaknya.

----------------------------------------------------------------------------------

“Paman melakukan hal mengerikan padaku. Dia menaruh lipstik ibuku di bibirku. Dan mendorongku keras-keras. Lalu, ibu pulang. Ibu memukuliku, sambil berkata, aku kotor. Lalu, dia memasukkanku ke dalam keresek sampah. Dan membuang sampah kepadaku. Kemudian, ia menaruhku di luar rumah. Paman bilang, aku akan mati kalau tetap di dalam keresek sampah. Tapi, ibu malah bilang,’Aku tidak peduli! Malah bagus kalau begitu’”. (Mother, episode 14)

Real Story

Kematian  mengenaskan yang dialami oleh Sakurako dan Kaede bukan cerita belaka. Ia nyata. Kantor berita di negeri matahari terbit itu menggambarkan adik kakak Hagi ini ditemukan kurus kering. Dalam keadaan telanjang, terlentang diantara tumpukan sampah. Hasil autopsi mengatakan tak ditemukan sisa makanan dalam saluran cerna keduanya. Diduga, kedua anak Sanae ini meninggal karena kelaparan.

Kasus kekerasan terhadap anak oleh ibunya. Kasus pengabaian anak oleh ibunya. Dan kasus senada, kini kian sering terjadi. Bak musim jamur kala penghujan. Hingga saking banyaknya, diangkatlah ia menjadi film. Sebagaimana kasus pengabaian anak di atas diangkat menjadi sebuah film yang berjudul “Sunk into the Womb” pada tahun 2016.

Tak hanya di Jepang, Korea pun merilis film bergenre sama. Tentang penganiayaan anak oleh ibunya. Walau bukan kisah nyata. Drama “Mother” ini mewakili kisah kekerasan anak oleh ibu dan pasangannya yang juga menjamur di Korea sana. Tak cukup Jepang dan Korea, kasus yang sama pun terjadi di negeri kita tercinta. Indonesia. Hingga lahir salah satu filmnya tahun 2016, “Untuk Angelina”. Bukan hanya Jepang, Korea, Indonesia, tapi sebagian besar negara di dunia ini bisa jadi memiliki kasus yang serupa. Walau tak semuanya diadopsi ke layar kaca. 

Sedih. Iba. Marah. Benci. Semua bercampur rasa di dada. Heran seheran-herannya. Mengapa bisa ibu yang mengandung, melahirkan darah dagingnya sendiri begitu tega mengabaikan, menganiaya anaknya? 

Sekulerisme Biang Keladi

Berderet kasus pilu terjadi menimpa anak-anak tak berdosa. Alasannya pun terasa remeh. Ingin punya waktu luang. Merasa beban dalam mengurus anak. Apalagi suami tak membersamai. Hilang dengan wanita lain. Tak mau bertanggungjawab atas ibu dan buah hatinya.

Perempuan memiliki fitrah mencintai anak-anak. Mengasihi dan menyayangi anak-anak. Karena itu, pengasuhan diberikan kepada ibu. Bonding antara anak dan ibu pun terjadi lebih intens. Mulai dari proses kehamilan. Janin yang berada dalam tubuh ibu bisa merasakan apa yang ibu rasakan. Maka, sering kita dengar  kalau ibu hamil harus mengatur emosinya. Tidak boleh stress karena akan mempengaruhi kondisi janin. Hal ini berlanjut setelah melahirkan. Ibu harus menyusui sang bayi dalam hitungan jam. Ini adalah fase lanjutan bonding antara anak dan ibu. Demikian seterusnya. 

Bahkan pelukan dari orangtua, khususnya ibu bisa membawa keajaiban bagi sang buah hati. Kala demam melanda, pelukan skin to skin bisa membuat demam reda. Saat sakit menghampiri, pelukan bisa menstimulus keluarnya hormon endorphin. Hormon ini adalah natural pain killer. Hingga tak heran kala anak sakit, ia ingin selalu digendong, dipeluk, tak mau lepas dari ibu.

Sayangnya, fitrah ibu nan mulia ini telah rusak bahkan mati pada sebagian ibu. Bukan cinta yang hadir kala bersama anak, namun benci dan amarah. Karena menganggap anak sebagai beban, bukan anugerah. Ini hadir karena racun sekulerime mencengkram dalam benak manusia masa kini. 

Sekulerisme. Paham memisahkan agama dari kehidupan. Membuat hidup kering kerontang. Kering dari keimanan. Lemah tak berdaya karena tiada Rabb sebagai tempat bersandar. Tiada Rabb untuk tempat mengadu. Semua terasa berat karena dipikul sendiri. Tak punya tempat bernaung. Tak ada yang diandalkan. 

Sayangnya, paham ini laku keras saat ini. Agama jadi hal yang kuno untuk dibicarakan. Keberadaan Tuhan mulai dipertanyakan. Kewajiban pun terasa menjadi beban. Hingga terombang-ambinglah dalam kehidupan.

Kembali dalam Pelukan Agama

Coba kalau para ibu memiliki keimanan sekokoh karang. Badai sekencang apapun. Sebuas apapun. Para ibu akan bertahan. Karena dengan iman, ibu percaya, ada Allah bersama mereka. Allah, Rabb Pencipta Alam semesta dan seluruh isinya jauh lebih hebat daripada masalah kita. Dengan mendekat pada Allah, para ibu punya sandaran yang tak terkalahkan. 

Fitrah ibu pun akan tetap terjaga. Masalah finansial, akan yakin dengan konsep rezeki. Haqqul yakin bahwa rezeki itu dari Allah, bukan dari suami, dari atasan. Tentu diiringi dengan ikhtiar yang sesuai syaria’t Islam. Masalah rumah tangga, selama berpegang pada agama, insyaallah dinaungi oleh Allah swt. Bukan berarti rumah tangga tanpa masalah, tapi masalah akan terlihat kecil jika kita sudah yakin ada Allah yang Maha Besar. Allah akan tunjukkan solusi dari setiap permasalahan kita.

Sehebat apapun negara di mata dunia, tapi kalau sekulerime sudah bercokol disana. Lihat dan tunggulah kehancurannya. Mulai dari institusi negaranya, sampai ke institusi keluarga. Karena tak mau diatur oleh agama. Menganggap agama sebagai candu. Padahal aturan yang mereka buat penuh cela. Menimbulkan permasalahan di atas permasalahan lainnya. 

Sudah saatnya kita kembali dalam pelukan agama. Singkirkan racun pemisahan agama dari kehidupan dunia. Justru dunia kita butuh agama. Butuh aturan dari Rabb Pencipta Alam Semesta. Yang tak pernah salah memberikan aturan-Nya dalam mengatur dunia dan seisinya. Pun kita, harusnya percaya, bahwa aturan Allah itu yang terbaik bagi kita. 

Wallahua’lam bish shawab