Selasa, 15 September 2020

Semua Hebat Sudah Berjuang

 



Bismillahirrahmanirrahim 


Hari ini adik saya dan keluarganya menginap. Jadi, saya berencana membawa anak-anak ke taman yang lumayan jauh dari rumah. Hal ini dalam rangka menyalurkan energi luar biasa anak-anak. Harapannya, setelah pulang, anak-anak akan lelah, dan langsung beristirahat. 


Taman yang kami tuju ditempuh lebih dari 15 menit dengan berjalan kaki. Perjalanan terasa melelahkan, apalagi matahari sudah mulai meninggi. Hehe. Kami kesiangan tuk pergi. 


Temuan saya hari ini:

Sebelum berangkat, saya membriefing anak-anak agar kuat selama perjalanan. 

"Yang kuat, ya. Kan sudah makan. "

"Iya!" jawab anak-anak bersemangat. 


Kami pun memulai perjalanan, berjalan kaki ke taman. Tentu dengan protokol keamanan, menggunakan masker atau face shield. 


"Kakak mau pakai masker atau face shield?"

"Face shield aja, " kata kaka. 

"Ila mau pakai masker atau face shield? "

"Masker."


Saat setengah perjalanan, anak-anak sudah mulai terlihat lelah. 

"Kok belum sampai? "

"Sebentar lagi sampai. Ayok, semangat!  Berjuang! " kata saya. 


Saya mengajak mereka istirahat sebentar tuk minum. 

"Alhamdulillah, kakak, ila, albi, baim, hebat ya. Berjuang, jalan ke taman, " saya mencoba memotivasi. 


Dan, ya, setelah beristirahat minum sebentar, mereka lebih semangat berjalan. Sampai salah satunya terjatuh karena senang tamannya sudah terlihat. 


Pulangnya pun begitu, walau lelah, mereka tetap semangat berjalan. Alhamdulillah. 


Poin komunikasi:

1. Saya menggunakan intonasi suara dan mimik muka ramah. 

2. Saya fokus mengatakan apa yang saya inginkan. 

3. Saya memotivasi agar anak-anak tetap kuat berjalan. 

4. Saya mengapresiasi perjuangan mereka. 

5. Saya memberikan pilihan pada anak-anak bukan menyuruhnya. 


Tantangan:

Tetap tenang dan cool di tengah teriknya matahari, dan riuhnya suara anak-anak. 


Rencana besok:

Saya ingin lebih banyak mempraktikkan poin komunikasi pada anak-anak atau suami. 


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐⭐⭐

Saya merasa sangat puas dengan komunikasi produktif saya hari ini. 


Semoga besok intonasi suara saya tetap terjaga dalam nada ramah seprti hari ini. Aamiin. 


#harike12

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia



Minggu, 13 September 2020

Aku Diam, Aku Tenang

 



Bismillahirrahmanirrahim 


Weekend itu seperti Puncak rollercoaster, kesibukan cenderung lebih banyak, kegiatan cenderung meningkat. Aktivitas anak-anak pun jadi lebih aktif. Dan buat saya, emosi saya saat weekend pun cenderung labil. Hiks. Padahal sekarang sudah masuk hari ke 11 tantangan komunikasi produktif. Tapi, saya masih on off dalam melaksanakannya. Astagfirullah. 


Kemarin saya berencana mempraktikkan poin komunikasi yang lebih banyak dari sebelumnya pada anak-anak. Tapi, saya memutuskan membahas temuan saya kala berkomunikasi produktif bersama suami. Kenapa? Saya malu, hari ini saya labil sekali. Sebentar ingat komunikasi produktif dengan anak-anak, sebentar lagi intonasi suara saya meninggi. Sebentar saya fokus pada apa yang saya ingin anak lakukan, sebentar kemudian saya malah membahas hal yang tidak saya ingin anak lakukan. Astagfirullah. 


Temuan saya:

Aktifitas yang aktif seharian tak membuat anak-anak saya tidur lebih cepat. Saya dan suami justru yang ingin segera beristirahat. Tapi, walau sudah nampak lelah di wajah anak-anak, mereka tetap aktif bergerak, termasuk si bungsu 1 tahun, Ibrahim. 


Karena jalannya sudah sempoyongan, saya gendong Baim dan mengASIhinya. Tapi, godaan suara kakak-kakak nya lebih kuat dari rasa lelah dan kantuknya. Akhirnya ia pun turun dari kasur dan kembali berjalan bulak-balik. Saat berkonflik dengan kakak-kakaknya, saya gendong Baim dan mencoba lagi mengASIhinya. Dengan harapan ia akan segera terlelap, dan saya pun bisa melakukan aktifitas lainnya. 


Sayangnya, ia kembali turun dari kasur. Bulak-balik kasur - lemari buku. Dan, "Gubrak". Ibrahim terjatuh, tangisnya pecah seperti yang kesakitan sekali. Suami pun segera menggendongnya dan memeriksanya. Alhamdulillah tidak ada luka terbuka, hanya sedikit memar di bagian dahi dan pipi. 

"Udah atuh mi, baim udah ngantuk. Boboin aja," kata suami.


Saya diam, dan tiba-tiba merasa kenapa saya yang disalahkan? Kesal, iya. Sedih, iya. Tapi, saya tetap diam. Mimik muka saya pun datar, tak menunjukkan amarah. 


Setelah mengoles minyak obat pada memarnya, saya gendong ibrahim dan mengajaknya tidur. Saya coba mengASIhinya kembali. Tapi, dia kembali turun kasur dan bolak-balik. Agar tak terlalu malam saat makan, saya pun ikut turun dari kasur dan keluar kamar. Sebelum keluar kamar, "Gubrak". Ibrahim jatuh lagi. 


"Udah atuh, mi. Baimnya gendong aja, " kata suami. Jujur, saya sedih, merasa disalahkan terus tapi sepertinya saat itu bukan waktu yang tepat tuk menunjukkan emosi saya di hadapan suami. Karena anak-anak masih bangun dan bermain di kamar. Saya hampiri ibrahim, saya periksa tubuhnya. Saya tanya, "Mana yang sakit, dek? "


Saya peluk tubuh mungilnya, dan saya gendong keluar. Tak lupa saya bilang pada suami, "Umi lapar, " dengan nada datar dan mimik muka biasa. Saya berusaha tetap cool dan calm. Akhirnya saya makan ditemani ila dan baim. Baim hanya makan sesuap, setelahnya ia kembali bolak balik berjalan keliling rumah. Saya diamkan saja sambil diperhatikan keamanannya. 


Setelah selesai makan, saya siapkan susu untuk ila. Tapi, mungkin karena baru selesai makan, ia kekenyangan dan tak kuat menghabiskan susunya. "Umi, susunya ga habis, " lapor ila. 

"Tolong taro di kulkas ya teh, " pinta saya. 

Dan tak lama, PRANG! Bunyi sedotan alumunium jatuh. 

"Umi, susunya tumpah, " teriak ila. 

Saya memandang suami. 

"Abi, boleh tolong jagain Baim, biar Umi sama ila beresin susunya. Atau abi mau beresin susunya sama ila, biar umi sama baim, " saya memberikan pilihan. 

"Boleh, " jawabnya. 

"Teh, mau sama abi beresinnya? " tanya suami. 

"Ga mau"

"Ok, sama umi aja. Bertanggungjawab ya teh, lap-in susunya yang tumpah. "

Akhirnya kami pun membereskan tumpahan susu di kulkas bersama. 


Poin komunikasi produktif :

1. Saya menggunakan intonasi suara dan gerak tubuh biasa, tidak marah-marah pada suami. 

2. Saya memberikan pilihan pada suami, bukan perintah. 


Tantangan:

1. Memilih waktu yang tepat tuk menyampaikan perasaan. 

2. Tetap tenang walau sedih, marah, kecewa. 

3. Memberikan pilihan yang dinilai sepadan. 


Rencana besok:

Karena besok suami kerja di kantor. Sepertinya besok saya ingin kembali mempraktikkan komunikasi produktif pada anak-anak sendiri, anak adik juga adik saya. 


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐

Saya merasa cukup dalam berkomunikasi produktif hari ini. 


#harike11

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia


Yeay, Kakak Bisa!

 


Bismillahirrahmanirrahim 


Hidup ini ibarat perjalan bukan? Perjalanan menuju kembali kita pada pangkuan Ilahi. Di tengah perjalanan, kita diberi amanah agar tidak kesepian, agar bisa saling menguatkan. Baik amanah pasangan pun amanah anak. 


Dan inilah episode perjalanan saya dalam membersamai amanah Tuhan. Masih dalam misi menanamkan kebiasaan sholat dan mengaji pada anak-anak, khususnya si sulung. Tentu, terus saya tanamkan motivasi kecintaannya akan ibadah sholat dan mengaji. Agar kuat pondasi amalnya karena dibangun dengan Cinta. 


Temuan saya hari ini:

Waktu magrib menghampiri, saya meminta kakak untuk sholat. 

"Kak, yuk, sholat magrib"

"Aku mau sholat sama abi"

"Silakan"

Tapi, ia tak juga beranjak. Karena abinya masih menjaga si bungsu. 

Saya tawarkan sholat bersama saya dan ila saja. 

"Shalat sama umi aja, yuk. Kakak mau jadi Imam? Atau mau di belakang? "

"Yaudah. Aku sholat di luar aja", katanya sambil menggeret sejadah. 

"Nanti ga keliatan dong" kata saya. 

"Oia".

Akhirnya kami sholat bersama di kamar. 


Setelah sholat, saya meminta kakak tuk mengaji. Kami duduk berdekatan. Saya memintanya tuk mengaji bersama saya. 

"Bareng-bareng ngajinya ya kak"

Kami mengaji bersama dan sampai di satu surat hafalannya. Saya memintanya tuk mendengarkan saya dulu, lalu mengikuti saya. 

"Umi dulu baru kaka ikutin ya"


Setelah kemarin drama kesulitan melafalkan huruf dan masih lupa bagian selanjutnya. Hari ini alhamdulillah kakak bisa melafalkan huruf dan bisa meneruskan ngaji. Alhamdulillah. 

"Tuh kan, kakak bisa! " kata saya sambil mengelus kepalanya. 


Dia tersenyum dan kami melanjutkan hafalan surat berikutnya. Saat bertemu dengan kesulitan dalam pelafalan, saya menyemangatinya. 

"Susah"

"Kakak pasti bisa. Tadi juga bisa, kan"


Poin komunikasi produktif 

1. Saya menggunakan intonasi suara dan mimik muka ramah

2. Saya fokus mengatakan apa yang saya inginkan

3. Saya mengganti kata tidak bisa menjadi bisa

4. Saya menggunakan bahasa tubuh yang ramah dan dengan Cinta. 


Tantangan:

Saya harus tetap tenang dan bersabar memotivasinya tuk sholat dan mengaji. Juga dikala adik-adiknya sedang rewel. Sikap saya padanya harus tetap tenang. 


Rencana besok:

Mempraktikkan poin komunikasi produktif dengan fokus pada kakak dan teteh dalam kondisi bermain bersama. 


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐⭐

Saya cukup puas dengan komunikasi produktif hari ini. 


Semoga bisa istiqomah dan lebih baik lagi. 


#harike10

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia


Sabtu, 12 September 2020

Alhamdulillah Kakak Bisa

 


Bismillahirrahmanirrahim

Saya pernah membaca bahwa salah satu hasil studi menyatakan dibutuhkan sekitar 18-254 hari bagi orang untuk membentuk kebiasaan, rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Maka, saya masih harus terus konsisten berlatih komunikasi produktif kepada orang-orang agar saya menjadikannya sebuah kebiasaan. Sementara, saya pun harus belajar berlapang dada jika anak belum terbiasa dengan pola yang saya bentuk dalam momen komunikasi produktif ini.

Saya masih ingin membentuk pola kegiatan magrib pada anak-anak, khususnya sulung. Oleh karena itu, saya akan fokus mengerahkan energi saya dalam berkomunikasi produktif saat ini. Walau jujur, masih banyak PR saya berkomunikasi produktif dalam kesempatan lainnya, seperti waktu makan, waktu pakai baju, waktu main.

Temuan saya hari ini:

Saat magrib tiba, dan adzan sudah usai, saya meminta kakak untuk memilih. "Kak, sudah magrib. Ayo, kita sholat. Kakak mau sholat sama om, atau mau sama abi, atau sama umi? "
"Aku mau sama om aja"
Kami sholat bergantian karena harus menjaga sang bungsu. Khawatir ia masuk ke dapur atau naik tangga. 
Akhirnya kakak sholat bersama om, juga teteh ila. 
Saya menyusul kemudian. Setelah saya selesai sholat, saya meminta kakak main dengan tenang sambil mendengar saya mengaji. Membacakan beberapa kali surat pendek. 
Selesai saya membacakan, saya memanggil kakak. "Kak, sini duduk di depan umi"
Ia pun duduk di hadapan saya. 
"Dengarkan umi dulu. Lalu ikuti ya" kata saya sambil menunjuk mulut saya. 
Ia mendengarkan dan memperhatikan tapi tangannya tak bisa diam. Saya ambil buku yang ia mainkan. 
"Fokus ya, nak"
Tak ada barang lagi yang bisa ia mainkan. Tapi, duduknya jadi bergoyang-goyang. Saya biarkan. Saya berusaha tuk tetap tenang. 
Saat mengikuti apa yang saya ucapkan, kakak merasa kesulitan melafalkan beberapa huruf. 
"Lihat mulut umi, kak"
"Susah", katanya. 
"Kakak pasti bisa. Ayo! " saya memberi semangat. 
Dia pun mencoba lagi, alhamdulillah akhirnya bisa. 
"Tuh kan, bisa". Begitu terus saya lakukan kala bertemu huruf yang masih sulit ia lafalkan. 
Saat kesulitan melafalkan, suaranya berubah kecil. Saya menaikkan volume suara saya. Kakak pun ikut menaikan volume suaranya. 
"Bagus, kak. Allah lebih suka kita berisik ngaji daripada berisik teriak nyanyi", saya memotivasi.

Alhamdulillah kegiatan magrib ini bisa berjalan tanpa drama tangisan dan rengekan dari kakak, atau pun teteh ila.

Komunikasi produktif :
1. Saya menggunakan kalimat yang simple dan short. 
2. Saya mengganti kata tidak bisa menjadi bisa.
3. Saya fokus pada apa yang saya ingin anak lakukan, bukan sebaliknya. 
4. Saya memberikan pilihan bukan memerintah. 
5. Saya menggunakan intonasi suara dan mimik muka tidak marah. Stay cool and calm.

Tantangan:
Saya masih harus membiasakan diri fokus mengucapkan apa yang saya ingin anak lakukan bukan sebaliknya. Saya harus bisa berusaha tetap tenang dan ramah menghadapi perilaku anak-anak. Saya harus menghilangkan ekspektasi berlebihan pada anak dan menanamkan kalau potensi setiap anak berbeda.

Rencana besok: 
Saya masih ingin fokus menggunakan poin komunikasi produktif dalam kegiatan magrib.

Bintang saya hari ini:
⭐⭐⭐⭐
Saya cukup puas dengan komunikasi produktif yang saya lakukan hari ini.

#harike9
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Kamis, 10 September 2020

Mau Sholat sama Baim

 


Bismillahirrahmanirrahim 


Tantangan terus berlanjut, semoga istiqomah dan diberikan kekuatan tuk mempraktikkan apa yang sudah dipelajari. Kali ini hari ketiga saya fokus berkomunikasi produktif bersama si sulung. Momen yang saya ambil masih saat magrib. Karena saya bertujuan ingin menjadikan pola atau habit setiap magrib. 


Temuanku hari ini:

Saya mengajak kakak tuk sholat magrib bersama saya. Karena ia tak ikut sholat bersama abinya atau kakek dan neneknya. 

"Yuk, kak, ikut sholat sama umi"

"Aku maunya sholat sama abi", kata kakak. 

"Abi udah sholat. Aki nenek juga udah. Yuk, sholat sama umi. Kemarin kakak hebat jadi Imam umi. Sekarang kakak mau jadi imam umi lagi? " saya mencoba memotivasi. 

"Aku maunya sholat sama baim", katanya sambil melihat si bungsu. 

Saya tersenyum mencoba positif thingking. 

"Baim yuk sholat sama umi" kata saya mengajak si bungsu yang baru berusia 1 tahun. Alhamdulillahnya, dia memang senang mengikuti orang sholat. Jadi, saat dipanggil, Baim langsung menghampiri saya, berdiri di samping saya. 

Kaka tersenyum. Ia pun langsung bangkit dan berdiri di samping Baim. Sehingga saya mundur menghamparkan sejadah yang baru. 


Kami sholat bersama. Walau kakak belum sempurna sholatnya, tak apa. Alhamdulillah sudah mau belajar sholat magrib bersama. 

Setelah itu, saya mengajak kakak mengaji bersama. Masih dengan aturan yang sama, ia boleh mendengarkan sambil bermain asal tidak gaduh. Sehingga masih bisa menyimak saya. Di tengah kegiatan, saya meminta ia mendekat, saya pun memangkunya, memeluknya sambil mengaji. Setelah selesai giliran saya, saya meminta kakak tuk mengikuti ucapan saya. 


Alhamdulillah hari ini kakak mau sholat dan mengaji bersama. 


Komunikasi produktif :

1. Saya memakai kalimat yang sederhana dan jelas. 

2. Saya fokus mengatakan apa yang saya inginkan. 

3. Saya menjaga intonasi suara saya tetap ramah dan tenang. 

4. Saya memotivasi kakak saat ia kesulitan melafalkan ayat. 


Rencana besok:

Saya ingin mempraktikkan kembali poin komunikasi yang sudah dijalankan dan mencoba poin komunikasi lainnya pada kakak. 


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐⭐

Saya puas terhadap komunikasi produktif saya dengan kakak saat magrib hari ini. 


Semoga besok bisa lebih baik lagi. 


#harike8

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia

Aku Mau Sholat, Aku Mau Jadi Imam

 



Bismillahirrahmanirrahim 


Melanjutkan komunikasi produktif hari ke 6 kemarin, hari ini saya mencoba komunikasi produktif pada si sulung dalam waktu magrib. Kemarin kami membuat kesepakatan kalau magrib adalah saatnya sholat berjama'ah dan mengaji bersama. Kemarin, sulung masih menolak tuk sholat berjama'ah. 


Temuan hari ini:

Saya mengajak kaka sholat Magrib. "Kak, yuk sholat magrib"

"Kan tadi udah", katanya mengingat. 

"Itu sholat ashar, sekarang magrib yang tiga roka'at"

Dia masih terlihat enggan. 

"Ayo kak, sholat bareng sama umi, kakak jadi imamnya"


Imam disini tentu bukan Imam yang sebenarnya, melainkan posisinya saat sholat ada di depan saya. Tiba-tiba ia langsung semangat, segera mengambil sajadah dan menggelarnya di depan sajadah saya. Kami pun sholat. Saya belum mengajarkan rukun sholat, juga bacaannya. Saya masih mau menanamkan motivasi kenapa kita harus sholat. Menegakkan prinsip Cinta dan butuh baru membahas aturan. 


Setelah selesai sholat, saya pun meminta kaka tuk menghampiri saya. Dia tidur-tiduran tak jauh dari saya sambil mengikuti saya mengaji. "Kaka sini biar suara umi terdengar"


Kami pun mengaji bersama. 


Komunikasi produktif :

1. Saya memakai kalimat sederhana dan jelas. 

2. Saya menggunakan intonasi suara ramah

3. Saya mengatakan apa yang saya inginkan, bukan yang tidak saya inginkan. 

4. Saya memotivasi anak dengan menjadikannya imam, sehingga ia mau sholat. 


Tantangan:

1. Mencari solusi atas ketidakmauannya melakukan sesuatu. 

2. Tetap tenang pada kakak sementara adiknya sedang tantrum

3. Membiasakan mengatakan apa yang saya inginkan, bukan apa yang tidak saya inginkan. 


Rencana besok:

Mengaplikasikan lebih banyak poin komunikasi produktif. 


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐⭐

Saya merasa puas atas komunikasi produktif saya dengan sulung saat magrib hari ini. 



#harike7

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia


Selasa, 08 September 2020

Aku Maunya Main



 Bismillahirrahmanirrahim 


Setelah lima hari mencoba fokus komunikasi produktif pada anak kedua. Lima hari ke depan saya berencana fokus melakukan komunikasi produktif pada anak pertama. Walau tentu anak kedua dan ketiga pun tetap saya usahakan berkomunikasi produktif. 


Saya mau menata ulang jadwal harian bersama anak-anak, khususnya target tuk anak pertama karena umurnya sudah 5 tahun. Saya mulai kembali membiasakan magrib sholat berjama'ah dan mengaji setelahnya. 


Temuan saya:

Saat saya ajak sholat dan mengaji kakak malah asyik bermain mobilan. Saya tak memaksanya tuk sholat, akhirnya saya sholat bersama teh ila. Setelah sholat, saya minta kakak dan ila tuk bermain di dekat saya. Biar mereka tetap mendengar saya saat saya melafadzkan surat yang sedang dihafal. 


"Kaka, ila, sini mainnya deket umi ya. Sambil dengar uminya ngaji, ya. Boleh main tapi tidak bersuara, ya".

Kakak dan ila mengangguk setuju. 

Saya pun melantunkan ayat al qur'an. Setelah 5 kali saya ulang, saya minta kakak membacakan ulang setelah saya. 

"Kakak, sini, ngaji dulu sama umi sekali. Ulangi setelah umi, ya. "

Kakak pun mengulangi apa yang saya ucapkan. 


Dirasa kurang lama, abinya ingin kakak juga mengaji surat yang lain. Lantas abi mengambil bola yang diambil kakak. Terjadilah rebutan yang berujung kakak terjatuh dan menangis. Kakak pun menghampiri saya sambil menangis. 


"Mana yang sakit? "

"Ini", katanya sambil memegang kepala bagian belakang yang jatuh ke lantai. 

Saya elus, tiup dan do'akan. 

"Kenapa kakak menangis? Kakak kesal sama abi? Kakak mau main bola tapi sama abi diminta ngaji? "

"Iya. Abinya ambil bola aku. " 

"Harusnya abi ijin dulu ya? "

"Iya"

"Harusnya abi bicara dulu ya? "

"Iya, aku mau main bola"

"Maafin abi, ya. Abinya lupa ijin. Tapi, lain kali kita ngaji dulu ya sampai isya. Setelah isya' kakak boleh main lagi"

"Aku mau main aja"

"Kakak, ada waktunya main, ada waktunya bobo, ada waktunya ngaji. Kan kakak sudah main dari pagi, siang, sore. Sekarang kita ngaji dulu sebentar ya. Biar dapat pahala dari Allah".

"Iya, tapi sebentar aja ya. "

"Iya, sebentar dari Magrib sampai Isya"


Komunikasi produktif :

1. Saya menggunakan kalimat sederhana dan jelas. 

2. Saya tetap tenang walau drama berlangsung

3. Saya menggunakan intonasi tenang dan mimik muka yang ramah

4. Saya fokus pada apa yang harus dilakukan (Solusi) 

5. Saya memakai bahasa yang memotivasi


Tantangan:

1. Tetap tenang menghadapi rengekan anak 5 tahun yang saya sudah punya ekspektasi lebih darinya

2. Menyamakan 'suara' dan pemahaman dengan abinya anak-anak 


Rencana besok:

Mengaplikasikan poin komunikasi produktif yang lainnya pada si sulung


Bintang saya hari ini:

⭐⭐⭐⭐

Saya cukup puas terhadap komunikasi produktif saya dengan si sulung hari ini. 


#harike6

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia